Kata orang cinta pertama itu paling susah buat dilupain. Kata orang juga cinta pertama itu paling mengesankan, alasannya sih sederhana, karena itu saat pertama bisa ngerasain cinta itu sendiri.
Ngomong-ngomong soal cinta
pertama, aku juga punya. Dia anak laki-laki biasa yang gak perlu banyak waktu
bisa buat dag-dig-dug. Padahal waktu itu aku masih di tingkat terakhir sekolah
dasar, haha, cinta pertama juga cinta monyet menurutku.
Tapi entah kenapa, anak laki-laki
itu juga tumbuh dewasa seperti aku. Akan jauh lebih baik kalau dia tetap jadi
anak laki-laki yang lebih tua setahun, yang mungkin waktu itu suka aku dengan
kepolosan yang jujur. Tapi dia juga manusia yang tumbuh dewasa.
Kedewasaan mungkin membuat baik
aku atau dia menjadi orang asing. Semua yang pernah terjadi waktu itu seolah
hanya kelucuan masa kecil yang gak bisa diceritakan kembali setelah bertambah
usia. Dan aku pribadi gak suka dengan perubahan itu.
Setiap ngeliat anak laki-laki
yang sudah tumbuh dewasa itu di depan mata, selalu masih ada dorongan agar
jantungku memompa lebih cepat. Tanganku tetap dingin, bahkan seringkali tanpa
sadar aku tetap mengagumi dia. Dia mungkin gak sempurna, aku sendiri tau kalau
sifatnya jauh dari sosok idaman. Tapi di tetap cinta pertama yang berharga.
Aku dan dia jarang ketemu
walaupun sebenarnya kami masih dalam satu keluarga besar. Menurut adat batak,
aku dan dia memang bisa pacaran bahkan menikah. Dari dulu sampai sekarang, kami
hanya bisa ketemu kalau ada acara-acara tertentu, terutama acara keluarga.
Sekarang aku ada di satu kota yang sama dengan dia karena aku harus merantau
untuk kuliah, tapi itu gak merubah apapun.
Ada. Aku memang pernah lupa
pesonanya dan menyukai anak laki-laki lain. Faktor utama memang karena
intensitas bertemu yang hampir gak pernah. Aku bahkan pernah jelas-jelas bilang
kalau aku gak akan jatuh untuk dia lagi. Tapi aku yakin, setelah bicara begitu
lalu tiba-tiba dia muncul di depanku, aku akan menarik kembali kata-kata tadi.
Tepat kemarin, aku melihat dia
lagi. Tetap dengan pesonanya yang paling pertama dulu, pesona cinta pertama.
Aku sempat nelan ludah dan mengakui ternyata bertumbuh dewasa membuatnya
semakin terlihat mengagumkan. Tapi kemudian aku menyadari kalau itu saat
terakhir aku boleh merasa begitu. Ada satu keadaan dimana aku memang gak bisa
berharap lagi, kembali karena adat batak yang berbelit-belit itu. Seperti ada
tangan besar yang menyadarkanku kalau semuanya harus berhenti hingga yang
tersisa hanya kenangan.
Seandainya bisa kembali ke saat
dimana kesempatan itu ada, mungkin aku gak akan biarin kedewasaan membuat
situasi berubah. Aku sendiri gak tau gimana dengan dia. Aku gak peduli karena
aku cukup puas dengan apa yang terjadi. Dia memang gak pernah secara nyata
bilang, tapi aku tau pasti, dia akan menyebut namaku kalau ada yang bertanya
siapa cinta pertamanya.
Sekarang keadaan sudah gak bisa
diperbaiki. Aku sudah harus mengubur dalam-dalam keinginanku dengan tetap
berkomitmen kalau dia memang yang pertama. Hanya berharap di pertemuan
berikutnya aku bisa mengontrol diri dan murni menganggapnya saudara atau
apasaja kecuali rasa itu. Harusnya aku bisa melakukannya dengan mudah, kan?
TT.TT
-dss-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar