“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan
perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang
sama.
-Part 2-
“Good night,” ucapnya mengawali. Kuharap dia
tidak mengetahui keberadaanku disini. “Sudah sangat lama, geuji? Hal yang mudah
untuk melupakan seseorang, tetapi tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk
melupakan kenangan. Kuharap semua orang disini bisa bahagia, termasuk kau, Kim
Jaegyeong,” tutup lelaki itu sebelum mengawali lagu.
Glek.
Kim Jaegyeong? Wanita entah dari mana yang
diakui Sungmin sebagai kekasih barunya itu? Apa mereka masih bersama?
Seluruh perasaan bertubi-tubi menghantam
jantungku. Perasaan marah karena Sungmin melakukan hal yang sama pada gadis
lain, perasaan iri karena Sungmin bernanyi untuk gadis lain, perasaan terluka
karena Sungmin ada disini, dan perasaan rindu yang menusuk.
Aku meraih tas kulit yang kubawa dan bergegas
meninggalkan cafe. Kecewa? Jelas sekali. Tidak ada waktu lain? Kenapa harus disaat aku ada disana?
Lalu kenapa aku malah menangis?!
Ponselku berdering. Aku sudah tau itu siapa.
Mianhae, Kyuhyun-ah. Besok aku akan menebus kesalahanku meninggalkanmu di cafe
itu.
*
Ternyata sudah pagi lagi saat mataku yang terasa lebih berat ini terbuka. Aku mengamati
wajahku dari pantulan cermin, tepatnya di daerah mata. Menangisi hal yang tidak
seharusnya. Sudah kubilang kan kalau aku ini bodoh?
Kuperiksa ponselku yang terus berdering tadi
malam. 13 panggilan tak terjawab dan 4 buah pesan tak terbaca. Semua dari
Kyuhyun. Sebaiknya aku menelepon anak itu.
“Sunbae!” pekik Kyuhyun sukses membuat
telingaku berdengung.
“Haish, kecilkan suaramu.”
“Beraninya kau meninggalkanku tanpa ijin,
Sunbaenim!”
“Ya! Berhenti berteriak!” balasku mulai pusing
karena Kyuhyun terus berteriak.
“Mianhae, tapi aku benar-benar cemas. Gwenchana?
Kenapa tidak bilang kalau mau pergi?”
“Sejak kapan kau secerewet ini, Cho Kyuhyun?”
balasku merasa tak enak. “Aku hanya tiba-tiba bosan.”
“Mwo?! Bosan?!” lagi-lagi si tampan ini
berteriak.
“Kalau kau tetap berteriak akan kumatikan
sambungan telepon, arra?”
“Andwe, andwe.”
“Awas saja kalau kau berani teriak lagi. Aku
menghubungimu karena ingin menebus kesalahanku. Apa hari ini kau sibuk?”
tanyaku mencoba menenangkan Kyuhyun.
“Hari ini?" Kyuhyun memberi jeda ucapannya. "Lusa bagaimana? Aku benar-benar
malas. Aku tidak suka hari ini,” balas namja itu tanpa dosa. Beraninya dia
menolak ajakanku.
“Arraseo. Aku akan menghubungimu lagi besok.
Annyeong,” tutupku lalu menggeser tombol merah pada layar ponsel.
Dasar menyebalkan. Memangnya ada apa dengan
hari ini? Apa dia semarah itu? Seharusnya hari Jumat disukai semua orang,
geuji?
Hm?
Hari ini hari Jumat? Dan Kyuhyun—
Flashback
On Eunran POV
“Kajjaaa,”
rengekku masih terus menarik jemari Sungmin agar berdiri dari sofa nyamannya.
“Aku bosan sekali. Ayolah kita pergi!”
“Shireo.
Hari Jumat sangat menyebalkan. Kau tau aku sangat benci keluar di hari Jumat. Tidak ada yang ingin kulakukan, Eun-ah,” tegas Sungmin membuatku benar-benar ingin menangis.
“Apa kau
tega melihatku menangis? Apa kau ingin aku menangis, heh?”
“Eun-ah,
jebbalyo.”
“Arraseo,”
gerutuku. “Entah sampai kapan kau akan membenci hari Jumat. Kurasa hanya kau
satu-satunya orang aneh yang tidak suka hari Jumat.”
Aku
duduk membelakangi Sungmin dan melipat tangan di depan dada. Ini sisi diri
namja itu yang sangat menyebalkan. Apapun yang ingin kulakukan dengannya tidak
bisa kalau itu jatuh di hari Jumat. Eyy~ apa yang salah? Bukankah Jumat adalah
weekend?
“Kau
benar-benar marah?” Sungmin mencolek bahuku. “Chagi?” panggilnya lembut. Aku
tak bergeming. Jarak rumah Taeyeon eonni ke rumah kontrakan namja ini kan jauh.
Memangnya siapa yang tidak marah sudah jauh-jauh datang, tapi diperlakukan
seperti itu? Mau mencoba merayuku, siluman kelinci?
“Kau
bisa tidur saja di kamarmu kalau kau mau. Buatlah hari Jumat yang kau sukai,”
rutukku.
Kurasakan
kedua tangan Sungmin melingkar di perutku. Dagunya yang tumpul singgah di
bahuku. “Apa kau marah?”
“Jangan
coba menggodaku.”
“Ya~,”
Sungmin memutar badanku hingga menghadapnya. “Kau tampak cantik bahkan saat
sedang marah.”
"Sudah kubilang jangan menggodaku," tatapku lurus pada Sungmin.“Percuma
saja aku kemari. Ada tidaknya aku disini tidak merubah pandanganmu tentang hari
Jumat, geuji? Aku mau pulang,” ucapku kemudian melepaskan tangan
Sungmin. Kusematkan tas yang kubawa dan siap-siap pulang.
“Chagi-ya,
arraseo,” akhirnya siluman itu turun dari sofa untuk menahan langkahku. Dia
menarikku untuk kembali duduk. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Apa kau
serius?” tanyaku memastikan.
“Ne. Apa
yang akan kita lakukan hari ini?”
“Yeaahh!”
tanpa sadar aku menghambur memeluk tubuh Sungmin. Dia balas mengelus
punggungku. Aku membuka tas dan menjatuhkan semua barang dari dalamnya.
“Ige
mwoya?” namja itu menatap ngeri pada isi tasku.
“Wig,
lipstick, blush on, dan teman-temannya.”
“Tapi
aku tidak bisa mendandanimu, Chagi.”
“Ani, aku
yang akan mendandanimu, Lee Sungmin. Jangan menolak, ne?” mohonku.
“Aniya,
geunde—“
“Jebbaaaal.”
“Arraseo,
arraseo. Tapi aku punya satu syarat,” Sungmin menepuk bahuku. “Panggil aku oppa
setiap hari Jumat.”
“Mwo?
Shireo.”
“Eyy,
kau tidak adil. Kalau begitu aku tidak mau didandani.”
“Memangnya usia kita berbeda, eoh?" protesku menganggap permintaan Sungmin barusan sangat konyol. Tapi aku memikirkannya kembali. Benar, aku harus memberikannya hadiah karena sudah merubah pikirannya tentang hari Jumat. "Joah.
Hanya hari Jumat, tidak lebih.”
“Coba
sekarang praktekan,” bibir Sungmin tersungging lebar.
“Sungmin
oppa.”
“Mworago?
Aku tidak bisa dengar.”
“Sungmin
opp—“
“Mworago?”
“SUNGMIN
OPPA!!!”
“Huahahahahahahahaa,”
tawanya puas. Kurasakan semburat panas di pipiku, rasanya kikuk. Ini pertama
kalinya aku menyebut Sungmin seperti itu.
Sungmin
akhirnya mulai kupermak. Memang sedikit kejam, tapi sudah lama ingin mendandani
namja yang berwajah cantik ini. Jujur saja, Sungmin lebih sering seenaknya
padaku. Dia bahkan pernah menyuruhku masuk ke toilet pria hanya untuk membunuh
kecoa. Tenang saja, ini sudah biasa terjadi dalam hubungan kami.
“Jaaann~”
pekikku setelah memastikan wig yang tersangkut di rambut Sungmin terpasang
dengan sempurna. “Woah, yeppoyo!”
“Jinjja?”
“Ne!
Sebentar kuambilkan cermin,” balasku segera
berlari kecil mengambil cermin dari dalam kamar. “Lihatlah.”
“Ya! Ige
mwoya?!” protes namja itu tapi dengan ekspresi malu-malu.
“Yeppuji?”
“Mworago?
Haish! Kemari kau gadis nakal!” gerutu Sungmin langsung menarik badanku hingga
jatuh ke atas sofa. “Rasakan ini!” tangan panjangnya dengan cepat mulai
menggelitiki perutku.
“Aaaaaakkkk!
Andwee!” aku menggeliat tak tahan. “Jebbal! Aaaakk. Sungmin-ah, andweee!”
“Mwo?
Bukankah kusuruh kau memanggilku ‘oppa’?” sungut Sungmin semakin memperlincah
gelitikannya.
“Arra,
arraaaaa! Geumanhae, Oppaaaa!” hampir saja aku kehabisan napas, kegelian.
Untunglah namja itu segera menghentikan tiondakannya.
“Apa kau
senang?” tanya Sungmin sesaat setelah mengambil napas.
“Belum.
Aku belum mengambil foto denganmu dengan dandanan seperti ini.”
“Tch.
Lakukanlah sesukamu, Eun-ah,” balasnya segera berpose.
“Puahahahahahaa.
Kau benar-benar membuatku iri, Oppa. Kajja. Hana, dul, set!”
Chu~
Pipiku
terasa panas. Tiba-tiba saja bibir mungil Sungmin mendarat tepat di pipi kananku.
“Sungmin,
ani, Oppa, ka—“
Chu~
Kali ini
namja itu berhasil mencium bibirku singkat. Mataku bahkan terbelalak atas
perlakuannya barusan. Dia tersenyum lalu mengusap bibirku, “Kau memakaikan
lipstick terlalu banyak.”
“Oppa,
kau ini keterlaluan.”
“Eoh?
Hahaha. Mian. Apa kau tidak ingin ke Mangwon? Hari Jumat masih panjang,”
ajaknya dengan mata berbinar.
“Wae?
Bukankah kau tidak suka hari Jumat?”
“Kajja!”
“Lepas
dulu dandananmu itu. Apa kau ingin ke taman dengan muka seperti itu?”
-
Tangan
hangat ini, menggenggam jemariku erat seakan tidak ingin terpisah. Dia sudah
menjadi Sungmin tampan tanpa polesan make up seperti di rumahnya tadi. Langkah
kaki yang kami ciptakan berirama indah, disusul dengan tiupan angin sepoi-sepoi.
“Ayo
duduk,” ajaknya setelah melihat bangku panjang di dekat sungai. Bangku yang
sering menjadi tujuanku dan Sungmin bila mampir ke taman ini.
Genggaman
Sungmin semakin erat. Dia menoleh ke arahku, “Sekarang kau benar-benar senang?”
“Ne,
majayo,” jawabku dan dapat kupastikan muncul semburat merah di sekitar wajahku.
Namja
itu melepaskan tangannya, lalu meletakan kepalanya ke atas pahaku. Kedua
tangannya terlipat di depan dada dengan mata tertutup. Tampan sekali. Wajah yang
damai dan sangat bersahabat.
Perlahan
aku mendekatkan wajahku sampai hampir tak berjarak. Bibirku mencoba menghampiri
bibir mungil Sungmin, menyentuhnya dengan perasaan tak terungkapkan. Namja itu
membalas aksiku dengan sedikit menarik tengkukku.
“Saranghae,”
aku berbisik setelah mengangkat wajahku ke posisi awal.
“Gomawo,”
balasnya dengan senyum tersungging. “Kau sukses membuat Jumat-ku sangat
menyenangkan. Hahahaha.”
Aku ikut
tertawa. Demi apapun aku tidak ingin kehilangan namja ini.
Flashback
off.
Kurasakan setitik air mata jatuh ke atas album
foto yang kupegang. Baru saja aku kembali melihat foto saat itu, saat aku
mendandani Sungmin. Rasanya benar-benar miris. Untuk apa aku masih menyimpan
kenangan ini? Bahkan setelah aku melihat namja itu masih bersama gadis lain.
*
Setelah mandi aku memang berniat untuk pergi
ke Taman Mangwon. Entah untuk alasan apa, tapi aku ingin ke sana. Aku membawa
mobil milik Taeyeon eonni dan segera meluncur.
Tempat ini terlalu banyak kenangan. Tanpa
kusadari aku berubah menjadi gadis yang sangat melankolis. Sebelumnya aku
bahkan tidak peduli pada perasaan orang. Hukum karma memang berlaku, heh?
Aku berjalan menelusuri taman yang masih menyisakan daun-daun oranye menandakan musim gugur akan segera berganti dengan musim dingin. Masih cukup banyak orang yang berada di tempat ini sekarang. Seperti sudah terbiasa dengan jalanan Taman Mangwon, kakiku terus melangkah ke tengah taman di tepi sungai. Ke tempat yang sangat aku sukai pemandangannya.
Tapi sebentar.
Apa aku tidak salah lihat? Apa itu Kyuhyun? Apa
hoobae satu itu mempermainkanku? Tadi kan dia bilang malas keluar. Dia bilang tidak suka hari Jumat. Lalu dia
datang dengan siapa?
Aku mendekat dan menyipitkan mata agar dapat
melihat lebih jelas. Tapi sedetik kemudian aku menyesal melakukannya. Coba
lihat, Kyuhyun ternyata sedang bersama SUNGMIN.
“Mwoya?” desisku pada diri sendiri. Hampir
saja aku menganggap ini mimpi. Aku melangkah sampai ke pohon paling dekat
dengan mereka dan bersembunyi di sana.
“Apa kau yakin dia tidak akan kemari?” tanya
sebuah suara yang kuyakini milik Sungmin.
“Ne, hyung.”
“Joah. Apa kau sudah menanyakan keadaannya?”
“Ne. Sepertinya dia benar-benar terpukul melihatmu
di cafe tadi malam. Hyung, apa kau tidak bisa menghentikan ini? Aku tau kau
bermaksud baik, tapi dengan cara ini tetap saja kau melukainya.”
“Kyuhyun-ah, apa kau tau? Aku sangat ingin membongkar
semuanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia buru-buru pergi saat pertama kali melihatku
lagi. Aku takut dia tidak ingin menemuiku.”
“Tapi hyung, sampai kapan? Kalau begini cepat
atau lambat dia pasti akan sadar. Hyung, bahkan dia masih mengingat semua
tentang dirimu. Kau tidak ingat saat kubilang Eunran sunbae mengataiku mirip
siluman kelinci? Ayolah hyung, pakai logikamu. Kau ingin melukainya dua kali?”
“Aniyo.”
“Aku sudah hampir membeberkan semuanya saat melihatnya
menangis. Hyung, dia selalu melamun saat aku mencoba untuk mengingatkan masa lalu kalian. Aku yakin dia masih mengingat semuanya. Kumohon jangan jadi
pengecut.”
“Tapi aku harus bagaimana? Kyuhyun-ah, kau tau
kan kalau—“
Kalimat Sungmin terputus melihat kehadiranku.
Semua pembicaraan dua lelaki itu terekam jelas oleh indera pendengaranku. Aku
sudah tak tahan mendengarnya dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat
persembunyian.
“Eunran?” kulihat wajah Sungmin benar-benar
pucat saat menyebut namaku.
“Sunbae, sejak kapan kau disini?” Kyuhyun
memegang pundakku. “Apa kau mendengarnya?”
Tak ada yang bisa kukatakan. Aku hanya merasakan
gumpalan air mengganggu penglihatanku dan tak bisa melepas pandanganku dari
Sungmin. Makhluk macam apa namja itu? Kenapa? Apa untungnya dia melakukan semua
ini?
“Eun—“
“Sudahlah,” cegahku sebelum Sungmin banyak
bicara. “Bukankah kalian sudah banyak bicara tadi? Apa masih ada yang ingin kau
ucapankan, Lee Sungmin?”
“Sunbae, ini tidak seperti yang kau pikirkan,”
bocah di sebelah Sungmin ini rupanya mencoba memberi pembelaan.
“Geure? Apa kau tau semua yang kupikirkan,
heh?” aku merasakan napasku memburu. “Kenapa dengan kalian berdua?” satu-satu
air mataku mulai berjatuhan. "Lee Sungmin, apa belum cukup puas? Kau
bahkan memakai anak ini untuk memastikan apa aku masih tergila-gila padamu,
geuji? Apa kau sudah mendapat jawabannya? APA KAU PUAS?!”
“Sunbae, dengarkan aku,” Kyuhyun menarik
pergelanganku. “Aku tidak ingin membela siapa-siapa disini. Baik, aku minta
maaf untuk semua yang kulakukan. Tapi aku percaya Sungmin hyung punya alasan
yang perlu kau dengar.”
“Aniyo. Tidak ada alasan yang harus kudengar
dari siapapun. Selamat untuk keberhasilan kalian berdua. Kuharap aku
benar-benar bisa melupakan orang sepertimu,” aku melewati tubuh Sungmin dan berjalan cepat untuk menyingkir dari tempat itu. Air mataku tumpah saat pintu mobil berhasil tertutup rapat.
Entah kenapa aku merasa percuma, merasa sia-sia untuk semua harapanku tentang
Sungmin ataupun Kyuhyun.
To be Continued~