Kamis, 23 Januari 2014

FF-I Miss You, I Do [Part 2]

sebelumnya...

“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang sama.

-Part 2-

“Good night,” ucapnya mengawali. Kuharap dia tidak mengetahui keberadaanku disini. “Sudah sangat lama, geuji? Hal yang mudah untuk melupakan seseorang, tetapi tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk melupakan kenangan. Kuharap semua orang disini bisa bahagia, termasuk kau, Kim Jaegyeong,” tutup lelaki itu sebelum mengawali lagu.
Glek.
Kim Jaegyeong? Wanita entah dari mana yang diakui Sungmin sebagai kekasih barunya itu? Apa mereka masih bersama?
Seluruh perasaan bertubi-tubi menghantam jantungku. Perasaan marah karena Sungmin melakukan hal yang sama pada gadis lain, perasaan iri karena Sungmin bernanyi untuk gadis lain, perasaan terluka karena Sungmin ada disini, dan perasaan rindu yang menusuk.
Aku meraih tas kulit yang kubawa dan bergegas meninggalkan cafe. Kecewa? Jelas sekali. Tidak ada waktu lain? Kenapa harus disaat aku ada disana? Lalu kenapa aku malah menangis?!
Ponselku berdering. Aku sudah tau itu siapa. Mianhae, Kyuhyun-ah. Besok aku akan menebus kesalahanku meninggalkanmu di cafe itu.
*

Ternyata sudah pagi lagi saat mataku yang terasa lebih berat ini terbuka. Aku mengamati wajahku dari pantulan cermin, tepatnya di daerah mata. Menangisi hal yang tidak seharusnya. Sudah kubilang kan kalau aku ini bodoh?
Kuperiksa ponselku yang terus berdering tadi malam. 13 panggilan tak terjawab dan 4 buah pesan tak terbaca. Semua dari Kyuhyun. Sebaiknya aku menelepon anak itu.
“Sunbae!” pekik Kyuhyun sukses membuat telingaku berdengung.
“Haish, kecilkan suaramu.”
“Beraninya kau meninggalkanku tanpa ijin, Sunbaenim!”
“Ya! Berhenti berteriak!” balasku mulai pusing karena Kyuhyun terus berteriak.
“Mianhae, tapi aku benar-benar cemas. Gwenchana? Kenapa tidak bilang kalau mau pergi?”
“Sejak kapan kau secerewet ini, Cho Kyuhyun?” balasku merasa tak enak. “Aku hanya tiba-tiba bosan.”
“Mwo?! Bosan?!” lagi-lagi si tampan ini berteriak.
“Kalau kau tetap berteriak akan kumatikan sambungan telepon, arra?”
“Andwe, andwe.”
“Awas saja kalau kau berani teriak lagi. Aku menghubungimu karena ingin menebus kesalahanku. Apa hari ini kau sibuk?” tanyaku mencoba menenangkan Kyuhyun.
“Hari ini?" Kyuhyun memberi jeda ucapannya. "Lusa bagaimana? Aku benar-benar malas. Aku tidak suka hari ini,” balas namja itu tanpa dosa. Beraninya dia menolak ajakanku.
“Arraseo. Aku akan menghubungimu lagi besok. Annyeong,” tutupku lalu menggeser tombol merah pada layar ponsel.
Dasar menyebalkan. Memangnya ada apa dengan hari ini? Apa dia semarah itu? Seharusnya hari Jumat disukai semua orang, geuji?
Hm?
Hari ini hari Jumat? Dan Kyuhyun—

Flashback On Eunran POV

“Kajjaaa,” rengekku masih terus menarik jemari Sungmin agar berdiri dari sofa nyamannya. “Aku bosan sekali. Ayolah kita pergi!”
“Shireo. Hari Jumat sangat menyebalkan. Kau tau aku sangat benci keluar di hari Jumat. Tidak ada yang ingin kulakukan, Eun-ah,” tegas Sungmin membuatku benar-benar ingin menangis.
“Apa kau tega melihatku menangis? Apa kau ingin aku menangis, heh?”
“Eun-ah, jebbalyo.”
“Arraseo,” gerutuku. “Entah sampai kapan kau akan membenci hari Jumat. Kurasa hanya kau satu-satunya orang aneh yang tidak suka hari Jumat.”
Aku duduk membelakangi Sungmin dan melipat tangan di depan dada. Ini sisi diri namja itu yang sangat menyebalkan. Apapun yang ingin kulakukan dengannya tidak bisa kalau itu jatuh di hari Jumat. Eyy~ apa yang salah? Bukankah Jumat adalah weekend?
“Kau benar-benar marah?” Sungmin mencolek bahuku. “Chagi?” panggilnya lembut. Aku tak bergeming. Jarak rumah Taeyeon eonni ke rumah kontrakan namja ini kan jauh. Memangnya siapa yang tidak marah sudah jauh-jauh datang, tapi diperlakukan seperti itu? Mau mencoba merayuku, siluman kelinci?
“Kau bisa tidur saja di kamarmu kalau kau mau. Buatlah hari Jumat yang kau sukai,” rutukku.
Kurasakan kedua tangan Sungmin melingkar di perutku. Dagunya yang tumpul singgah di bahuku. “Apa kau marah?”
“Jangan coba menggodaku.”
“Ya~,” Sungmin memutar badanku hingga menghadapnya. “Kau tampak cantik bahkan saat sedang marah.”
"Sudah kubilang jangan menggodaku," tatapku lurus pada Sungmin.“Percuma saja aku kemari. Ada tidaknya aku disini tidak merubah pandanganmu tentang hari Jumat, geuji? Aku mau pulang,” ucapku kemudian melepaskan tangan Sungmin. Kusematkan tas yang kubawa dan siap-siap pulang.
“Chagi-ya, arraseo,” akhirnya siluman itu turun dari sofa untuk menahan langkahku. Dia menarikku untuk kembali duduk. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Apa kau serius?” tanyaku memastikan.
“Ne. Apa yang akan kita lakukan hari ini?”
“Yeaahh!” tanpa sadar aku menghambur memeluk tubuh Sungmin. Dia balas mengelus punggungku. Aku membuka tas dan menjatuhkan semua barang dari dalamnya.
“Ige mwoya?” namja itu menatap ngeri pada isi tasku.
“Wig, lipstick, blush on, dan teman-temannya.”
“Tapi aku tidak bisa mendandanimu, Chagi.”
“Ani, aku yang akan mendandanimu, Lee Sungmin. Jangan menolak, ne?” mohonku.
“Aniya, geunde—“
“Jebbaaaal.”
“Arraseo, arraseo. Tapi aku punya satu syarat,” Sungmin menepuk bahuku. “Panggil aku oppa setiap hari Jumat.”
“Mwo? Shireo.”
“Eyy, kau tidak adil. Kalau begitu aku tidak mau didandani.”
“Memangnya usia kita berbeda, eoh?" protesku menganggap permintaan Sungmin barusan sangat konyol. Tapi aku memikirkannya kembali. Benar, aku harus memberikannya hadiah karena sudah merubah pikirannya tentang hari Jumat. "Joah. Hanya hari Jumat, tidak lebih.”
“Coba sekarang praktekan,” bibir Sungmin tersungging lebar.
“Sungmin oppa.”
“Mworago? Aku tidak bisa dengar.”
“Sungmin opp—“
“Mworago?”
“SUNGMIN OPPA!!!”
“Huahahahahahahahaa,” tawanya puas. Kurasakan semburat panas di pipiku, rasanya kikuk. Ini pertama kalinya aku menyebut Sungmin seperti itu.
Sungmin akhirnya mulai kupermak. Memang sedikit kejam, tapi sudah lama ingin mendandani namja yang berwajah cantik ini. Jujur saja, Sungmin lebih sering seenaknya padaku. Dia bahkan pernah menyuruhku masuk ke toilet pria hanya untuk membunuh kecoa. Tenang saja, ini sudah biasa terjadi dalam hubungan kami.
“Jaaann~” pekikku setelah memastikan wig yang tersangkut di rambut Sungmin terpasang dengan sempurna. “Woah, yeppoyo!”
“Jinjja?”
“Ne! Sebentar kuambilkan cermin,” balasku segera  berlari kecil mengambil cermin dari dalam kamar. “Lihatlah.”
“Ya! Ige mwoya?!” protes namja itu tapi dengan ekspresi malu-malu.
“Yeppuji?”
“Mworago? Haish! Kemari kau gadis nakal!” gerutu Sungmin langsung menarik badanku hingga jatuh ke atas sofa. “Rasakan ini!” tangan panjangnya dengan cepat mulai menggelitiki perutku.
“Aaaaaakkkk! Andwee!” aku menggeliat tak tahan. “Jebbal! Aaaakk. Sungmin-ah, andweee!”
“Mwo? Bukankah kusuruh kau memanggilku ‘oppa’?” sungut Sungmin semakin memperlincah gelitikannya.
“Arra, arraaaaa! Geumanhae, Oppaaaa!” hampir saja aku kehabisan napas, kegelian. Untunglah namja itu segera menghentikan tiondakannya.
“Apa kau senang?” tanya Sungmin sesaat setelah mengambil napas.
“Belum. Aku belum mengambil foto denganmu dengan dandanan seperti ini.”
“Tch. Lakukanlah sesukamu, Eun-ah,” balasnya segera berpose.
“Puahahahahahaa. Kau benar-benar membuatku iri, Oppa. Kajja. Hana, dul, set!”
Chu~
Pipiku terasa panas. Tiba-tiba saja bibir mungil Sungmin mendarat tepat di pipi kananku.
“Sungmin, ani, Oppa, ka—“
Chu~
Kali ini namja itu berhasil mencium bibirku singkat. Mataku bahkan terbelalak atas perlakuannya barusan. Dia tersenyum lalu mengusap bibirku, “Kau memakaikan lipstick terlalu banyak.”
“Oppa, kau ini keterlaluan.”
“Eoh? Hahaha. Mian. Apa kau tidak ingin ke Mangwon? Hari Jumat masih panjang,” ajaknya dengan mata berbinar.
“Wae? Bukankah kau tidak suka hari Jumat?”
“Kajja!”
“Lepas dulu dandananmu itu. Apa kau ingin ke taman dengan muka seperti itu?”
-
Tangan hangat ini, menggenggam jemariku erat seakan tidak ingin terpisah. Dia sudah menjadi Sungmin tampan tanpa polesan make up seperti di rumahnya tadi. Langkah kaki yang kami ciptakan berirama indah, disusul dengan tiupan angin sepoi-sepoi.
“Ayo duduk,” ajaknya setelah melihat bangku panjang di dekat sungai. Bangku yang sering menjadi tujuanku dan Sungmin bila mampir ke taman ini.
Genggaman Sungmin semakin erat. Dia menoleh ke arahku, “Sekarang kau benar-benar senang?”
“Ne, majayo,” jawabku dan dapat kupastikan muncul semburat merah di sekitar wajahku.
Namja itu melepaskan tangannya, lalu meletakan kepalanya ke atas pahaku. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan mata tertutup. Tampan sekali. Wajah yang damai dan sangat bersahabat.
Perlahan aku mendekatkan wajahku sampai hampir tak berjarak. Bibirku mencoba menghampiri bibir mungil Sungmin, menyentuhnya dengan perasaan tak terungkapkan. Namja itu membalas aksiku dengan sedikit menarik tengkukku.
“Saranghae,” aku berbisik setelah mengangkat wajahku ke posisi awal.
“Gomawo,” balasnya dengan senyum tersungging. “Kau sukses membuat Jumat-ku sangat menyenangkan. Hahahaha.”
Aku ikut tertawa. Demi apapun aku tidak ingin kehilangan namja ini. 

Flashback off.

Kurasakan setitik air mata jatuh ke atas album foto yang kupegang. Baru saja aku kembali melihat foto saat itu, saat aku mendandani Sungmin. Rasanya benar-benar miris. Untuk apa aku masih menyimpan kenangan ini? Bahkan setelah aku melihat namja itu masih bersama gadis lain.
*
Setelah mandi aku memang berniat untuk pergi ke Taman Mangwon. Entah untuk alasan apa, tapi aku ingin ke sana. Aku membawa mobil milik Taeyeon eonni dan segera meluncur.
Tempat ini terlalu banyak kenangan. Tanpa kusadari aku berubah menjadi gadis yang sangat melankolis. Sebelumnya aku bahkan tidak peduli pada perasaan orang. Hukum karma memang berlaku, heh?
Aku berjalan menelusuri taman yang masih menyisakan daun-daun oranye menandakan musim gugur akan segera berganti dengan musim dingin. Masih cukup banyak orang yang berada di tempat ini sekarang. Seperti sudah terbiasa dengan jalanan Taman Mangwon, kakiku terus melangkah ke tengah taman di tepi sungai. Ke tempat yang sangat aku sukai pemandangannya.
Tapi sebentar.
Apa aku tidak salah lihat? Apa itu Kyuhyun? Apa hoobae satu itu mempermainkanku? Tadi kan dia bilang malas keluar. Dia bilang tidak suka hari Jumat. Lalu dia datang dengan siapa?
Aku mendekat dan menyipitkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Tapi sedetik kemudian aku menyesal melakukannya. Coba lihat, Kyuhyun ternyata sedang bersama SUNGMIN.
“Mwoya?” desisku pada diri sendiri. Hampir saja aku menganggap ini mimpi. Aku melangkah sampai ke pohon paling dekat dengan mereka dan bersembunyi di sana.
“Apa kau yakin dia tidak akan kemari?” tanya sebuah suara yang kuyakini milik Sungmin.
“Ne, hyung.”
“Joah. Apa kau sudah menanyakan keadaannya?”
“Ne. Sepertinya dia benar-benar terpukul melihatmu di cafe tadi malam. Hyung, apa kau tidak bisa menghentikan ini? Aku tau kau bermaksud baik, tapi dengan cara ini tetap saja kau melukainya.”
“Kyuhyun-ah, apa kau tau? Aku sangat ingin membongkar semuanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia buru-buru pergi saat pertama kali melihatku lagi. Aku takut dia tidak ingin menemuiku.”
“Tapi hyung, sampai kapan? Kalau begini cepat atau lambat dia pasti akan sadar. Hyung, bahkan dia masih mengingat semua tentang dirimu. Kau tidak ingat saat kubilang Eunran sunbae mengataiku mirip siluman kelinci? Ayolah hyung, pakai logikamu. Kau ingin melukainya dua kali?”
“Aniyo.”
“Aku sudah hampir membeberkan semuanya saat melihatnya menangis. Hyung, dia selalu melamun saat aku mencoba untuk mengingatkan masa lalu kalian. Aku yakin dia masih mengingat semuanya. Kumohon jangan jadi pengecut.”
“Tapi aku harus bagaimana? Kyuhyun-ah, kau tau kan kalau—“
Kalimat Sungmin terputus melihat kehadiranku. Semua pembicaraan dua lelaki itu terekam jelas oleh indera pendengaranku. Aku sudah tak tahan mendengarnya dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian.
“Eunran?” kulihat wajah Sungmin benar-benar pucat  saat menyebut namaku.
 “Sunbae, sejak kapan kau disini?” Kyuhyun memegang pundakku. “Apa kau mendengarnya?”
Tak ada yang bisa kukatakan. Aku hanya merasakan gumpalan air mengganggu penglihatanku dan tak bisa melepas pandanganku dari Sungmin. Makhluk macam apa namja itu? Kenapa? Apa untungnya dia melakukan semua ini?
“Eun—“
“Sudahlah,” cegahku sebelum Sungmin banyak bicara. “Bukankah kalian sudah banyak bicara tadi? Apa masih ada yang ingin kau ucapankan, Lee Sungmin?”
“Sunbae, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” bocah di sebelah Sungmin ini rupanya mencoba memberi pembelaan.
“Geure? Apa kau tau semua yang kupikirkan, heh?” aku merasakan napasku memburu. “Kenapa dengan kalian berdua?” satu-satu air mataku mulai berjatuhan. "Lee Sungmin, apa belum cukup puas? Kau bahkan memakai anak ini untuk memastikan apa aku masih tergila-gila padamu, geuji? Apa kau sudah mendapat jawabannya? APA KAU PUAS?!”
“Sunbae, dengarkan aku,” Kyuhyun menarik pergelanganku. “Aku tidak ingin membela siapa-siapa disini. Baik, aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Tapi aku percaya Sungmin hyung punya alasan yang perlu kau dengar.”
“Aniyo. Tidak ada alasan yang harus kudengar dari siapapun. Selamat untuk keberhasilan kalian berdua. Kuharap aku benar-benar bisa melupakan orang sepertimu,” aku melewati tubuh Sungmin dan berjalan cepat untuk menyingkir dari tempat itu. Air mataku tumpah saat pintu mobil berhasil tertutup rapat. Entah kenapa aku merasa percuma, merasa sia-sia untuk semua harapanku tentang Sungmin ataupun Kyuhyun.

To be Continued~
 

Senin, 13 Januari 2014

FF-I Miss You, I Do [Part 1]

Cast : Soo Eunran, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Disclaimer : This fanfic is mine. Happy reading ^^


Summary:
Satu kalipun, aku tidak berniat melupakanmu
Bukan, aku sudah ingin melakukannya, tapi aku terlalu terbiasa denganmu
*
Eunran POV

Tirai hujan yang lebat masih menghiasi pemandangan di luar jendela kamarku. Kalender merah mudah yang sejak tadi menjadi perhatianku segera kututup pelan. Hampir satu tahun. Waktu yang tidak singkat untuk berusaha melupakan seseorang. Tapi kenapa aku tidak bisa? Lee Sungmin. Selama satu tahun ini seluruh isi kepalaku tidak bisa bersih dari namja itu.
 Harusnya aku membencinya. Harusnya aku sudah melupakan segalanya sejak aku melihat kejadian menyakitkan itu. Biar kutebak, namja itu pasti sudah bisa melupakanku seratus persen. Kenapa? Kenapa sulit sekali melupakan orang yang sudah bertindak seenaknya seperti Sungmin?
Menangis. Yah, aku hanya bisa menangis mengasihani kebodohanku ini. Kalau saja dia tau seperti apa rasanya. Aniyo. Sejak awal akulah yang paling tau bagaimana keadaannya, cara bertahan untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi kebiasaanku.
Tok! Tok! Tok!
“Eunran-ah! Mau sampai kapan kau di kamar terus? Apa kau tidak ikut ke gereja?” suara Taeyeon eonni melengking di luar pintu kamarku.
“Oh, ne! Aku akan segera keluar. Gidaryeo, Eonni!” cepat-cepat aku menghapus sisa-sisa air mata yang melekat di pipiku. Aku mulai membiasakan diri ke gereja bersama Taeyeon eonni pada jam sore sejak satu tahun lalu. Alasannya masih karena namja itu. Aku ingin mengubah kebiasaan, agar setidaknya ada memori yang bisa terlupa.
“Kau lama sekali, nona Soo,” Taeyeon eonni mencubit pipiku gemas. Semoga saja dia tidak menyadari mataku yang sembab ini.
Taeyeon eonni adalah anak dari paman Kim. Ibunya kakak dari ibuku. Keluargaku semua berada di Jeju, sebuah pulau indah yang selalu kurindukan. Aku tinggal bersama Taeyeon eonni sejak aku memutuskan untuk kuliah di Seoul.
*
Ibadah dimulai tepat setelah aku menduduki salah satu bangku di deret belakang. Dulu aku selalu datang pagi, tidak pernah duduk di belakang, bahkan selalu masuk dengan menggenggam tangan Sungmin. Tapi sekarang keadaan sudah benar-benar berubah. Aku, Sungmin, dan semuanya sudah lenyap. Hanya kenangan yang tersisa.
Waktu memang sudah menjawabnya. Sekarang aku hanya datang sendiri, maksudku tidak terhitung Taeyeon eonni. Aku bersyukur setidaknya masih ada eonni cantik itu di sampingku. Hhhh. Bukankah aku mau melupakan namja itu? Bagaimana mau lupa kalau hal sekecil ini saja masih harus teringat padanya?
“...Tuhan, memang benar ini sulit. Bahkan aku tidak tau betapa banyaknya waktu yang terbuang sia-sia untuk menangisi kisah indah yang berakhir di tengah jalan itu. Sungmin sudah menjadi hari-hari indahku, dan hari-hari itu kuharap bisa terulang di masa yang akan datang. Mungkin tidak bersama Sungmin, tapi tidak masalah. Setidaknya izinkan aku melupakan dia. Kumohon. Amin.”
Setiap ibadah, aku selalu menyisipkan doa itu. Berharap Tuhan akan menjawabnya.
“Ya! Melamun apa lagi kau ini? Ayo pulang,” Taeyeon eonni menyenggol lenganku. Aku baru sadar terus melongo setelah doa berakhir.
“Ne, eonni,” cengirku.
Gadis itu menarik tanganku dan berjalan di depan. Gereja masih dipenuhi dengan orang-orang yang juga mau keluar. Harusnya tidak terlalu sulit bagi kami untuk menerobos, karena tadi duduk di barisan belakang. Kalau dipikir-pikir sudah sangat lama—
“Ah!” ringisku. Kepalaku membentur bahu belakang Taeyeon eonni. “Eonni, waeyo?”
Gadis itu tidak bersuara dan terus menatap ke depan. Akhirnya kuikuti arah pandangnya penasaran. Siap—
“Sungmin?” tubuhku terpaku saat menyebut nama itu. Bukan, namja itu, dia ada di depanku saat ini. Gila! Ini tidak mungkin!
Beberapa detik aku hampir tidak bisa merasakan detak jantungku. Sepersekian menit mataku mulai basah dan membuat pandanganku kabur. Tidak bisa. Aku harus segera pergi, aku harus lari sekarang. Mana mungkin aku menangis di depan manusia ini. Kulangkahkan kakiku secepat yang kubisa dan menerobos orang-orang tanpa peduli. Wajah itu, ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Mata, hidung, bahkan bibir mungil Sungmin, aku melihat lagi semua itu.
Blam!
Aku berhasil menutup pintu mobil. Tiba-tiba semua yang terjadi hari itu berputar memenuhi kepalaku.

Flashback on Eunran POV

Sungmin mengajakku bertemu di taman Mangwon. Ini adalah pertemuan pertama sejak seminggu lalu dia tidak mengabariku sama sekali. Bahagia? Tentu saja. Mana ada kekasih yang betah tidak bertemu selama seminggu, kecuali kasus long distance relationship.
Taman ini menjadi taman favoritku dengan Sungmin. Kami sering menghabiskan sore hari disini, walaupun taman ini memang tidak sebaik taman lain di kota Seoul.
“Dimana siluman kelinci itu? Kalau aku melihatnya, pasti akan kujitak kepalanya,” aku menggerutu kembali mengingat ketidak beradaan Sungmin selama seminggu belakangan ini.
Mataku tertuju pada bangku panjang yang terletak di bawah pohon rindang di dekat sungai. Sepertinya itu Sungmin. Tapi siapa itu di sebelahnya?
“Sungmin-ah,” panggilku dari belakang. Namja itu memutar badannya tapi tidak membalas senyumku. Catat itu, tidak membalas senyumku.
“Wasseo?” balasnya. Aku berhenti melangkah tepat satu meter di belakang mereka. Langkahku terhenti karena kulihat tangan Sungmin merangkul gadis di sebelahnya yang baru saja ikut berdiri. Aku tidak pernah melihat gadis itu.
“Apa kau sudah lama? Siapa dia?” tanyaku mulai mengerutkan bibir.
“Dia Jaegyeong,” balas Sungmin. Tatapan matanya padaku tidak sehangat biasanya, dia tampak gugup dan canggung.
“Ah, Jaegyeong. Apa dia temanmu? Kenapa tidak pernah mengenalkannya padaku?” aku mencoba untuk berpikir positif. Apa lagi setelah kuliat rangkulan Sungmin semakin erat di bahu gadis itu.
“Dia bukan temanku, tapi—“ Sungmin menurunkan tangannya lalu gantian menggenggam jemari gadis di sebelahnya itu. “dia Jaegyeong, gadis yang sekarang sangat kucintai,” lanjutnya.
“Ne?”
“Maaf, aku baru mengabarimu sekarang.”
“M-mwo? Mworago?”
Dengan susah payah aku menelan ludah. Suaraku tercekat dan hampir tidak bisa bicara. Apa-apaan ini? Kenapa begitu mudah mengucapkannya? Apa dia gila? Apa dia bodoh? Apa aku sedang dikerjai? Apa aku melewatkan sesuatu?
“Tidak usah bingung dan terlalu dipikirkan. Mulai sekarang aku akan terus bersama gadis ini, mianhae Eunran-ah,” Sungmin mengatakannya dengan sangat jelas.Tidak usah dipikirkan katanya? Bahkan di telingaku kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk sampai bilik jantungku.
“Tch. Kau pasti bohong, geuji? Sungmin-ah, ulang tahunku masih sangat lama. Sudahlah, tidak usah bercanda lagi,” aku mendekati mereka tiga langkah lagi.
“Aku tidak bercanda.”
“Ne?” mataku panas. Gigi atas dan bawah di dalam mulutku mengeras, menahan rasa yang bergejolak luar biasa ini. “Michoseo?”
“Mungkin, aku mungkin sudah gila. Geure, kami akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik,” tanpa bergerak sedikit pun untuk menghampiriku, Sungmin malah menarik tangan gadis bernama Jaegyeong itu untuk angkat kaki. Mereka berjalan perlahan menjauhiku.
Aku benar-benar terpaku. Seperti ada kabut gelap yang meninggalkan gelegar petir di atas kepalaku. Laki-laki seperti apa dia, heh? Semudah itu?
“Sungmin-ah!” aku berteriak dan mencoba berlari mengejar mereka. “Sungmin-ah, chankaman!”
Aku berhasil menyusul dan menahan langkah kedua orang itu. Napasku memburu tak karuan.
“Apa lagi?” tanyanya yang membuat mentalku terjun bebas.
“Arraseo, aku hanya ingin bicara sebentar,” aku menelan ludah dan menarik napas. “Chukkae,” ucapku dengan luka yang semakin dalam. “Aku tidak mengerti kenapa begitu mendadak, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan. Geurigo, gomawo. Setidaknya sekarang mataku sudah terbuka dan melihat seperti apa sebenarnya dirimu itu, Lee Sungmin. Kau—“
Kepalaku tertunduk. Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan. Tanpa kata aku berbalik dan maju meninggalkan kedua orang itu, benar, mereka berdua dan aku sendiri. Hanya seperti ini. Semuanya berakhir hanya begini saja. Air mataku sudah tidak terbendung dan akhirnya tumpah. Ini menyakitkan.Taman seindah ini cukup memuakan sekarang.

Flashback end.

Ingatan itu masih terjiplak jelas dalam otakku. Air mata yang tumpah ruah sampai saat ini, itu semua karena namja bodoh itu. Ya Tuhan, aku ingin melupakannya, tapi kenapa dia malah muncul?
Blam!
“Eun-ah, gwenchana?” Taeyeon eonni yang baru masuk ke mobil langsung memelukku.
“Aniyeyo, aku tidak baik-baik saja. Eonni, wae? Waeyo jigeum?!” aku terisak. Kurasakan tangan lembut Taeyeon eonni mengusap bahuku.
“Ne, arraseo. Sekarang sebaiknya kita pulang.”
*
Sebagai mahasiswi psikologi aku bangga bisa membaca sifat orang dari perilakunya. Walaupun kadang-kadang aku salah mengartikan, tapi setidaknya itulah kelebihan dari seorang psikolog. Kampus ini, tempat dimana selama 3 tahun belakangan aku menuntut ilmu. Tidak ada yang spesial, terutama setelah Sungmin pergi entah kemana.
Tch. Jebbal Eunran, berhenti memikirkan namja itu.
“Jogiyo!” suara sedikit merdu dan kuyakin berasal dari seorang laki-laki, memanggilku dari depan. Aku mendekat untuk mengetahui siapa yang sepagi ini sudah berteriak tanpa memanggil namaku.
“Nuguseyo?”
“Ah, Cho Kyuhyun imnida,” balasnya dengan senyum lebar sekali. Suaranya tegas, tapi masih terdengar sangat lembut.
“Kau mengenalku?”
“Ne, geurom. Ireumi Soo Eunran, geuji?”
“Ya! Eottoke arraseo? Kau penguntit, heh?” aku mundur selangkah untuk menjaga jarak.
“Ey~ aniyo,” namja itu mengibaskan tangannya. “Aku adik tingkatmu.”
“Mworago?”
“Ne. Cho Kyuhyun hoobae,” jelasnya.
Aku memerhatikan wujud namja yang berdiri di depanku ini. Gaya berdirinya, mirip seseorang yang sangat kukenal, lalu cengirannya itu, benar-benar sangat mirip. Hanya saja namja ini terlihat lebih tinggi. Tidak usah kukatakan siapa orangnya.
“Ada masalah apa? Kenapa kau memanggilku?” aku menaikkan dagu sedikit.
“Kau menjatuhkan kartu mahasiswamu, Sunbae,” namja bernama Kyuhyun itu mengibas-ngibas sebuah kartu di depan wajahku. Eyy, dasar tidak sopan! Pantas saja dia tau namaku.
“Dimana kau menemukannya?”
“Di dekat pohon di tengah kampus. Aku juga sering sekali melihatmu disana. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”
Glek.
Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?
“Sudahlah, aku  ada kelas. Terima kasih sudah menemukan kartu ini. Lain kali kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan, eoh?”
“Ah, ne, Sunbae.”
Aku bergerak meninggalkan namja itu di belakang. Tak sengaja bibirku malah tersenyum miris. Pohon di tengah kampus. Tch. Apa lagi yang bisa kulakukan selain melamun dan akhirnya malah memutar semua kenangan yang pernah tercipta di tempat itu.
Pohon itu adalah tempat umum di kampus ini. Tapi hampir seluruh mahasiswa disini menamakannya ‘Pohon Minran’. Setelah Sungmin menghilang, aku tidak pernah mendengar nama Minran disebut-sebut lagi. Empat bulan yang lalu kudengar pohon itu akan ditebang, tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga dilaksanakan. Apa itu hanya hoax? Mollayo. Sekarang bagiku, ada atau tidaknya pohon itu tidak akan merubah apa-apa.
*

Dia memang mengerikan. Namja yang mengaku hoobae di kampusku ini, yang menemukan kartu mahasiswaku dan akhirnya mengetahui semua identitasku, belakangan ini suka sekali muncul dimana-mana. Mulai dari memberikan payung saat hujan deras, tiba-tiba muncul dengan coklat saat aku melamun di tengah kampus, menarikku untuk berdiri di lantai atas dan membicarakan banyak hal, bahkan saat aku membutuhkan tissue toilet dia tiba-tiba datang dan melempar benda itu dari atas pintu.
Bayangkan!
Apa dia Spiderman?
Semakin lama mengenalnya, aku semakin mengingat Lee Sungmin. Setiap melakukan aktivitas bersama Kyuhyun, aku malah terus melihat pribadi Sungmin. Ya Tuhan, Kyuhyun memang sangat baik. Tapi apa tidak bisa aku melihat Kyuhyun sebagai Kyuhyun? Aku memang ingin melupakan Sungmin, tapi tidak dengan cara ini. Aku sediri sangat lelah, jujur. Kalau begini terus bisa-bisa semua kenangan yang berhasil kulupakan akan terkupas kembali. Kumohon, menyingkirlah Sungmin!!!
“Sunbae? Kau melamum lagi, heh?” Kyuhyun menyenggol tanganku dan mengembalikanku ke alam nyata. Sudah kubilang, dia suka sekali muncul di depanku.
“Kyuhyun-ah, apa kau tidak capek melihatku? Atau kau tidak bosan dengan kebiasaanku melamun?”
“Aniyo. Wae?”
“Tch,” gantian aku memukul lengannya. “Benar juga. Aku yang seharusnya bilang bosan melihatmu ada dimana-mana.”
Aku melirik Kyuhyun yang hanya membalasnya dengan senyum. Lagi-lagi yang terlintas di kepalaku malah Sungmin. Senyum yang selalu dikeluarkan Sungmin untuk membalas perkataanku yang tidak masuk akal, sama dengan senyum Kyuhyun saat ini.
“Oh, sebentar,” Kyuhyun mengambil tas yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalamnya. “Ini, cobalah.”
“Ige mwoya?” balasku sembari mengambil benda yang disodorkan Kyuhyun itu. Kubuka tutup kotak makan di tanganku dan tertegun melihat isi di dalamnya. “Sup labu?”
“Wae? Kau tidak suka?”
“A-aniyo.”
“Ahh, untunglah. Cobalah, aku sudah membuatnya dengan susah payah,” Kyuhyun memberikan sendok sup ke arahku. Dengan masih terdiam, aku meraih sendok dan mulai memasukkan sesuap sup ke dalam mulut.
Sama. Rasanya benar-benar sama.
“Kyuhyun-ah, apa kau tau?”
“Ne?”
“Kau benar-benar mirip dengan seseorang.”
“Jinjja? Nugu? Apa dia bisa memasak sup labu juga?”
Aku tersenyum miris, “Sangat bisa. Dia bisa memasak lebih enak dari pada masakanmu ini. Kau benar-benar mirip dengan siluman kelinci itu.”
“Siluman kelinci? Hahaha. Nuguyeyo?”
Aku tak berniat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Siapa yang peduli? Kujelaskanpun siapa orangnya pada hoobae ini, dia tidak akan mengerti.
*
Kubaca sekali lagi pesan yang baru saja masuk ke ponselku, dari Kyuhyun. Dia mengajakku ke Sapphire Cafe, sebuah tempat yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Dari begitu banyak cafe di kota ini, kenapa harus yang satu itu?
Tapi aku ingin. Sudah lebih dari satu tahun aku tidak kesana, jadi tidak ada salahnya aku menerima ajakan Kyuhyun. Lagi pula aku bosan terus-terusan di rumah.
To : Kyu hoobae
Arraseo. Aku akan berangkat sekarang J
-
Lampu-lampu hiasan berwarna ungu redup membuat suasana cafe ini semakin terlihat elegan. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, hanya ada sedikit perubahan pada posisi panggung. Sejak memasuki cafe, aku berhasil mengingat salah satu kenanganku bersama Lee Sungmin.

Flashback on Eunran POV

Sungmin memintaku berdandan cantik malam ini. Dia bilang akan mengajakku pergi ke tempat yang namanya sangat bagus. Hahaha. Kupikir dia hanya mengakui kalau namaku yang paling bagus, ternyata masih ada yang lebih bagus. Dasar siluman!
“Kau jangan kaget kalau kita sudah sampai, eoh?” tegas Sungmin tepat saat aku duduk di jok mobil. Aku meliriknya curiga.
“Wae? Aku sudah dandan cantik, jadi kuperingatkan jangan macam-macam,” ancamku disambut tawa nyaringnya. Lihat, dia memang suka sekali menertawaiku.
Sekitar 20 menit kami tiba disebuah bangunan yang terlihat seperti cafe di kebanyakan tempat. Apa yang harus kukagetkan?
“Kajja,” Sungmin menggenggam tanganku hangat dan membawaku masuk. Temaram ungu nyaman memenuhi pandanganku. Cukup indah dan minimalis.
Sungmin memandu sampai kami duduk di salah satu sudut cafe. Tempat dimana aku bisa melihat panggung dengan sempurna. Dia memesan beberapa cemilan dan dua gelas minuman.
“Tunggu sebentar, ne? Jangan kemana-mana,” bisiknya. Aku mengangguk saja.
Aku mengikuti Sungmin dengan pandangan mata sampai dia menghilang di belakang panggung. Beberapa detik kemudian aku terbelalak mendapati Sungmin berdiri di atas panggung dengan sebuah gitar di tangannya. Dia mengambil salah satu mic lalu duduk di kursi sambil memangku gitar.
“Good night,” sapanya mengundang puluhan pasang mata, termasuk aku. “Eunran-ah, sudah kubilang jangan kaget. Kenapa sampai melotot begitu?” jelas saja ucapannya itu membuat semua mata sekarang terarah padaku.
“Gadis di sana itu, namanya Soo Eunran. Apa kalian tau? Kami sudah menempuh waktu yang sangat lama sampai saat ini. Dia gadis paling manis yang pernah ada. Hahaha. Kalau ada yang mau protes mohon disimpan. Bagiku tidak ada yang lebih baik dari Eunran-ku. Dan malam ini aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya. I love you, Soo Eunran,” ucapnya dengan sebuah senyum. Sungmin mulai membuat intro lagu dari gitarnya dan seketika membuat cafe ini riuh dengan tepuk tangan.
Meleleh?
Kalau aku ini sebatang lilin, kupikir Sungmin adalah sumbu api yang paling ampuh sampai membuatku meleleh dalam waktu singkat. Perasaan yang bergejolak membuat mataku berair. Aku juga mencintaimu, Lee Sungmin.

Flashback off

“Sunbae, kau mau pesan apa?” Kyuhyun menyadarkanku dari sisa-sisa kenangan yang baru saja mengusik.
“Apa saja.”
“Geure.”
Beberapa detik setelah memastikan pesanan, pelayan yang berdiri di meja tempatku bersama Kyuhyun akhirnya pergi ke belakang. Aku kembali mengamati ruangan minimalis ini. Memang tidak ada yang begitu spesial, kecuali lagu yang pernah dinyanyikan Sungmin untukku.
“Sunbae,” Kyuhyun memanggilku. “Aku pergi ke toilet sebentar, eoh?”
“Ne. Jangan lama-lama,” pesanku mengingat keadaanku yang takut sendiri di tempat yang tak begitu kukenal. Kyuhyun mengangguk paham dan menepuk bahuku sebelum beranjak.
Panggung berubah gelap. Aku tidak bisa melihat siapa seseorang yang baru saja naik ke atasnya. Sesaat kemudian sebuah lampu sorot menyala dan tertuju pada seorang namja yang duduk di sana, di atas panggung. Mataku menyipit agar bisa melihat dengan jelas.
“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang sama.

To be continued~