Jumat, 30 Mei 2014

FIRST LOVE





Kata orang cinta pertama itu paling susah buat dilupain. Kata orang juga cinta pertama itu paling mengesankan, alasannya sih sederhana, karena itu saat pertama bisa ngerasain cinta itu sendiri.

Ngomong-ngomong soal cinta pertama, aku juga punya. Dia anak laki-laki biasa yang gak perlu banyak waktu bisa buat dag-dig-dug. Padahal waktu itu aku masih di tingkat terakhir sekolah dasar, haha, cinta pertama juga cinta monyet menurutku.

Tapi entah kenapa, anak laki-laki itu juga tumbuh dewasa seperti aku. Akan jauh lebih baik kalau dia tetap jadi anak laki-laki yang lebih tua setahun, yang mungkin waktu itu suka aku dengan kepolosan yang jujur. Tapi dia juga manusia yang  tumbuh dewasa.

Kedewasaan mungkin membuat baik aku atau dia menjadi orang asing. Semua yang pernah terjadi waktu itu seolah hanya kelucuan masa kecil yang gak bisa diceritakan kembali setelah bertambah usia. Dan aku pribadi gak suka dengan perubahan itu.

Setiap ngeliat anak laki-laki yang sudah tumbuh dewasa itu di depan mata, selalu masih ada dorongan agar jantungku memompa lebih cepat. Tanganku tetap dingin, bahkan seringkali tanpa sadar aku tetap mengagumi dia. Dia mungkin gak sempurna, aku sendiri tau kalau sifatnya jauh dari sosok idaman. Tapi di tetap cinta pertama yang berharga.

Aku dan dia jarang ketemu walaupun sebenarnya kami masih dalam satu keluarga besar. Menurut adat batak, aku dan dia memang bisa pacaran bahkan menikah. Dari dulu sampai sekarang, kami hanya bisa ketemu kalau ada acara-acara tertentu, terutama acara keluarga. Sekarang aku ada di satu kota yang sama dengan dia karena aku harus merantau untuk kuliah, tapi itu gak merubah apapun.

Ada. Aku memang pernah lupa pesonanya dan menyukai anak laki-laki lain. Faktor utama memang karena intensitas bertemu yang hampir gak pernah. Aku bahkan pernah jelas-jelas bilang kalau aku gak akan jatuh untuk dia lagi. Tapi aku yakin, setelah bicara begitu lalu tiba-tiba dia muncul di depanku, aku akan menarik kembali kata-kata tadi.

Tepat kemarin, aku melihat dia lagi. Tetap dengan pesonanya yang paling pertama dulu, pesona cinta pertama. Aku sempat nelan ludah dan mengakui ternyata bertumbuh dewasa membuatnya semakin terlihat mengagumkan. Tapi kemudian aku menyadari kalau itu saat terakhir aku boleh merasa begitu. Ada satu keadaan dimana aku memang gak bisa berharap lagi, kembali karena adat batak yang berbelit-belit itu. Seperti ada tangan besar yang menyadarkanku kalau semuanya harus berhenti hingga yang tersisa hanya kenangan.

Seandainya bisa kembali ke saat dimana kesempatan itu ada, mungkin aku gak akan biarin kedewasaan membuat situasi berubah. Aku sendiri gak tau gimana dengan dia. Aku gak peduli karena aku cukup puas dengan apa yang terjadi. Dia memang gak pernah secara nyata bilang, tapi aku tau pasti, dia akan menyebut namaku kalau ada yang bertanya siapa cinta pertamanya.

Sekarang keadaan sudah gak bisa diperbaiki. Aku sudah harus mengubur dalam-dalam keinginanku dengan tetap berkomitmen kalau dia memang yang pertama. Hanya berharap di pertemuan berikutnya aku bisa mengontrol diri dan murni menganggapnya saudara atau apasaja kecuali rasa itu. Harusnya aku bisa melakukannya dengan mudah, kan? TT.TT

-dss-

Rabu, 16 April 2014

TUHAN Dengar Doaku

Mengenal-Mu dihidupku anugerah terindah bagiku
dan tak akan pernah terganti..

Bersama-Mu kujalani hidup yang sungguh berarti
Kau b'rikanku kasih sempurna..

ku tau Tuhan dengar doaku
ku tau Tuhan dengar peluhku
dan Kau b'rikan Roh-Mu
yang selalu kuatkanku

ku tau Tuhan lihat semua
tetes air mata dan luka
dan ku tau pasti
Yesus yang belaku

ku tau Tuhan dengar doaku
ku tau Tuhan dengar segala peluhku
dan Kau b'rikan Roh-Mu
yang s'lalu kuatkanku

ku tau Tuhan lihat semua
tetes air mata dan luka
dan ku tau pasti
Tuhan Yesus yang belaku..
dan ku tau pasti
Tuhan Yesus jawab doaku..

Kamis, 13 Februari 2014

Happy Valentine's Day!!!


My Valentine?


Valentine? Entahlah ini sudah valentine yang ke berapa sejak aku tau adanya hari tersebut. Waktu SD aku sering berkolaborasi sama kak Nin buat puding cokelat sebagai surprise dikasih ke mama. Haha. Kami memang selalu melakukan hal spesial atas nama mama, walaupun akhirnya kedua suami istri itu terlibat.

Semakin beranjak dewasa, akhirnya aku punya setting pikiran kalau valentine itu ya acaranya barengan pacar. Biasalah, remaja ababil. Tapi terakhir aku pacaran itu kelas 2 SMP-itupun coba coba- dan sumfeh waktu SMA aku gak pernah punya pikiran mau dapat pacar. Jadi valentine-valentine itu berlalu gitu aja. Lagi-lagi aku cuma ngasih cokelat sama puding coklat buat mama.

Lulus SMA, aku mulai merasa yah… sedikit aneh. Disaat hampir semua gadis seusiaku punya gandengan, tapi aku enggak. Sedih? Sedikit. Tapi ini adalah valentine dimana aku benar-benar merasa ‘sendiri’. Bukan, bukannya aku mau mengumbar kalau aku desprate dalam keadaan begini. Aku sih senang-senang aja. Tapi ya itu tadi, aku merasa sudah saatnya aku benar-benar mencari satu.

Sejak jadi mahasiswa aku memang sudah suka beberapa orang. Malah di awal masuk dulu sempat tergila-gila sama seseorang. Tapi aku jarang memperlihatkannya secara frontal. Dan akibatnya sampai sekarang laki-laki yang berbeda datang dan pergi begitu aja. Aku suka, tapi kemudian karena gak mendapat apa yang kuinginkan, aku berhenti tanpa syarat.

Seperti yang sebelumnya aku bilang, sebenarnya aku ingin mencari satu. Hmm, yang melihatku tanpa ‘alasan’. Dan membuka sedikit rahasia, resolusi tahun 2014 di botol ajaibku salah satunya yaitu punya pacar.
Tadi aku belanja di pajus (pajak USU) dan isinya waaawww.. lelaki bertebaran nyariin kado. Dan memang seminggu terkahir ini-seperti biasa-semua toko isinya berbau boneka, cokelat, kado, dsb dsb dsb. Hmmmm,  sempat mikir seandainya aku juga punya orang yang rela panas-panasan nyariin kado di hari spesial kayak valentine besok.

Banyak yang bilang sih di usia 21 tahun harusnya aku udah nemuin satu. Tapi mau gimana coba? Aku mau berkaca dulu, instrospeksi diri. Kira-kira apa yang salah dan perlu dibaikin. Jadi waktu aku liat kesempatan, bukannya kabur dan menghindar, tapi aku tau aku harus mendapatkannya. Mudah-mudahan dengan begitu aku bisa menggandeng yang terbaik dan di valentine tahun depan bisa ikut merasakan pengalaman kayak pasangan-pasangan yang lain.

Happy Valentine untuk orang-orang yang berharga di dalam hidup aku. Mama, bapak, kak pit, kak nin, dek tas, dek put. Juga buat sahabat-sahabat tersayang nopa, mega, egi, ceem, didi, pina, sama monca. Gak lupa buat perkes-perkes ellak, wella, step, pipit, sama asri. Dan buat semuaaaaa yang ada bersamaku dalam semua keadaan. Aku sayang kalian. Terakhir buat jodoh masa depan *ehem* tunggu sampai kita bertemu. Semoga saat hal itu terjadi isi blog yang hanya sesekali kuisi ini menjadi blog yang penuh cinta. Hahahahahahahaha.

HAPPY VALENTINE!

해피 발렌타!

Sabtu, 08 Februari 2014

to do!


Belakangan ini aku merasa buruk sekali. Aku boros. Makan gak berhenti. Dan yang paling parah aku melupakan semua komitmenku yang kubangun sama Tuhan. Aku gak pernah saat teduh. Aku malas berdoa. Malah aku ngelakuin hal-hal yang harusnya gak aku lakuin.
Aneh?
Aku juga merasa ini sangat aneh. Apa karena Tuhan ngasih aku kenikmatan maka aku melupakan semuanya? Hatiku ingin sekali berbalik, menjadi aku yang dulu. Hemat atau bahkan pelit ngeluarin uang. Aku mau nabung lagi. Aku mau sering-sering olah raga lagi. Dan yang paling aku rindukan adalah saat teduh di hadapan Tuhan. Aku rindu berdoa. Aku mau jadi novi yang dulu.
Dari mana aku harus memulainya? Rasanya ingin menangis kuat. Ingin meninggalkan keanehan ini jauh di belakang. Hikssss.
AKU MAU BERUBAH
HARUS
HARUS JADI NOVI YANG DULU
MENJADI LEBIH BAIK
HARUS HARUS HARUS!

Kamis, 23 Januari 2014

FF-I Miss You, I Do [Part 2]

sebelumnya...

“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang sama.

-Part 2-

“Good night,” ucapnya mengawali. Kuharap dia tidak mengetahui keberadaanku disini. “Sudah sangat lama, geuji? Hal yang mudah untuk melupakan seseorang, tetapi tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk melupakan kenangan. Kuharap semua orang disini bisa bahagia, termasuk kau, Kim Jaegyeong,” tutup lelaki itu sebelum mengawali lagu.
Glek.
Kim Jaegyeong? Wanita entah dari mana yang diakui Sungmin sebagai kekasih barunya itu? Apa mereka masih bersama?
Seluruh perasaan bertubi-tubi menghantam jantungku. Perasaan marah karena Sungmin melakukan hal yang sama pada gadis lain, perasaan iri karena Sungmin bernanyi untuk gadis lain, perasaan terluka karena Sungmin ada disini, dan perasaan rindu yang menusuk.
Aku meraih tas kulit yang kubawa dan bergegas meninggalkan cafe. Kecewa? Jelas sekali. Tidak ada waktu lain? Kenapa harus disaat aku ada disana? Lalu kenapa aku malah menangis?!
Ponselku berdering. Aku sudah tau itu siapa. Mianhae, Kyuhyun-ah. Besok aku akan menebus kesalahanku meninggalkanmu di cafe itu.
*

Ternyata sudah pagi lagi saat mataku yang terasa lebih berat ini terbuka. Aku mengamati wajahku dari pantulan cermin, tepatnya di daerah mata. Menangisi hal yang tidak seharusnya. Sudah kubilang kan kalau aku ini bodoh?
Kuperiksa ponselku yang terus berdering tadi malam. 13 panggilan tak terjawab dan 4 buah pesan tak terbaca. Semua dari Kyuhyun. Sebaiknya aku menelepon anak itu.
“Sunbae!” pekik Kyuhyun sukses membuat telingaku berdengung.
“Haish, kecilkan suaramu.”
“Beraninya kau meninggalkanku tanpa ijin, Sunbaenim!”
“Ya! Berhenti berteriak!” balasku mulai pusing karena Kyuhyun terus berteriak.
“Mianhae, tapi aku benar-benar cemas. Gwenchana? Kenapa tidak bilang kalau mau pergi?”
“Sejak kapan kau secerewet ini, Cho Kyuhyun?” balasku merasa tak enak. “Aku hanya tiba-tiba bosan.”
“Mwo?! Bosan?!” lagi-lagi si tampan ini berteriak.
“Kalau kau tetap berteriak akan kumatikan sambungan telepon, arra?”
“Andwe, andwe.”
“Awas saja kalau kau berani teriak lagi. Aku menghubungimu karena ingin menebus kesalahanku. Apa hari ini kau sibuk?” tanyaku mencoba menenangkan Kyuhyun.
“Hari ini?" Kyuhyun memberi jeda ucapannya. "Lusa bagaimana? Aku benar-benar malas. Aku tidak suka hari ini,” balas namja itu tanpa dosa. Beraninya dia menolak ajakanku.
“Arraseo. Aku akan menghubungimu lagi besok. Annyeong,” tutupku lalu menggeser tombol merah pada layar ponsel.
Dasar menyebalkan. Memangnya ada apa dengan hari ini? Apa dia semarah itu? Seharusnya hari Jumat disukai semua orang, geuji?
Hm?
Hari ini hari Jumat? Dan Kyuhyun—

Flashback On Eunran POV

“Kajjaaa,” rengekku masih terus menarik jemari Sungmin agar berdiri dari sofa nyamannya. “Aku bosan sekali. Ayolah kita pergi!”
“Shireo. Hari Jumat sangat menyebalkan. Kau tau aku sangat benci keluar di hari Jumat. Tidak ada yang ingin kulakukan, Eun-ah,” tegas Sungmin membuatku benar-benar ingin menangis.
“Apa kau tega melihatku menangis? Apa kau ingin aku menangis, heh?”
“Eun-ah, jebbalyo.”
“Arraseo,” gerutuku. “Entah sampai kapan kau akan membenci hari Jumat. Kurasa hanya kau satu-satunya orang aneh yang tidak suka hari Jumat.”
Aku duduk membelakangi Sungmin dan melipat tangan di depan dada. Ini sisi diri namja itu yang sangat menyebalkan. Apapun yang ingin kulakukan dengannya tidak bisa kalau itu jatuh di hari Jumat. Eyy~ apa yang salah? Bukankah Jumat adalah weekend?
“Kau benar-benar marah?” Sungmin mencolek bahuku. “Chagi?” panggilnya lembut. Aku tak bergeming. Jarak rumah Taeyeon eonni ke rumah kontrakan namja ini kan jauh. Memangnya siapa yang tidak marah sudah jauh-jauh datang, tapi diperlakukan seperti itu? Mau mencoba merayuku, siluman kelinci?
“Kau bisa tidur saja di kamarmu kalau kau mau. Buatlah hari Jumat yang kau sukai,” rutukku.
Kurasakan kedua tangan Sungmin melingkar di perutku. Dagunya yang tumpul singgah di bahuku. “Apa kau marah?”
“Jangan coba menggodaku.”
“Ya~,” Sungmin memutar badanku hingga menghadapnya. “Kau tampak cantik bahkan saat sedang marah.”
"Sudah kubilang jangan menggodaku," tatapku lurus pada Sungmin.“Percuma saja aku kemari. Ada tidaknya aku disini tidak merubah pandanganmu tentang hari Jumat, geuji? Aku mau pulang,” ucapku kemudian melepaskan tangan Sungmin. Kusematkan tas yang kubawa dan siap-siap pulang.
“Chagi-ya, arraseo,” akhirnya siluman itu turun dari sofa untuk menahan langkahku. Dia menarikku untuk kembali duduk. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Apa kau serius?” tanyaku memastikan.
“Ne. Apa yang akan kita lakukan hari ini?”
“Yeaahh!” tanpa sadar aku menghambur memeluk tubuh Sungmin. Dia balas mengelus punggungku. Aku membuka tas dan menjatuhkan semua barang dari dalamnya.
“Ige mwoya?” namja itu menatap ngeri pada isi tasku.
“Wig, lipstick, blush on, dan teman-temannya.”
“Tapi aku tidak bisa mendandanimu, Chagi.”
“Ani, aku yang akan mendandanimu, Lee Sungmin. Jangan menolak, ne?” mohonku.
“Aniya, geunde—“
“Jebbaaaal.”
“Arraseo, arraseo. Tapi aku punya satu syarat,” Sungmin menepuk bahuku. “Panggil aku oppa setiap hari Jumat.”
“Mwo? Shireo.”
“Eyy, kau tidak adil. Kalau begitu aku tidak mau didandani.”
“Memangnya usia kita berbeda, eoh?" protesku menganggap permintaan Sungmin barusan sangat konyol. Tapi aku memikirkannya kembali. Benar, aku harus memberikannya hadiah karena sudah merubah pikirannya tentang hari Jumat. "Joah. Hanya hari Jumat, tidak lebih.”
“Coba sekarang praktekan,” bibir Sungmin tersungging lebar.
“Sungmin oppa.”
“Mworago? Aku tidak bisa dengar.”
“Sungmin opp—“
“Mworago?”
“SUNGMIN OPPA!!!”
“Huahahahahahahahaa,” tawanya puas. Kurasakan semburat panas di pipiku, rasanya kikuk. Ini pertama kalinya aku menyebut Sungmin seperti itu.
Sungmin akhirnya mulai kupermak. Memang sedikit kejam, tapi sudah lama ingin mendandani namja yang berwajah cantik ini. Jujur saja, Sungmin lebih sering seenaknya padaku. Dia bahkan pernah menyuruhku masuk ke toilet pria hanya untuk membunuh kecoa. Tenang saja, ini sudah biasa terjadi dalam hubungan kami.
“Jaaann~” pekikku setelah memastikan wig yang tersangkut di rambut Sungmin terpasang dengan sempurna. “Woah, yeppoyo!”
“Jinjja?”
“Ne! Sebentar kuambilkan cermin,” balasku segera  berlari kecil mengambil cermin dari dalam kamar. “Lihatlah.”
“Ya! Ige mwoya?!” protes namja itu tapi dengan ekspresi malu-malu.
“Yeppuji?”
“Mworago? Haish! Kemari kau gadis nakal!” gerutu Sungmin langsung menarik badanku hingga jatuh ke atas sofa. “Rasakan ini!” tangan panjangnya dengan cepat mulai menggelitiki perutku.
“Aaaaaakkkk! Andwee!” aku menggeliat tak tahan. “Jebbal! Aaaakk. Sungmin-ah, andweee!”
“Mwo? Bukankah kusuruh kau memanggilku ‘oppa’?” sungut Sungmin semakin memperlincah gelitikannya.
“Arra, arraaaaa! Geumanhae, Oppaaaa!” hampir saja aku kehabisan napas, kegelian. Untunglah namja itu segera menghentikan tiondakannya.
“Apa kau senang?” tanya Sungmin sesaat setelah mengambil napas.
“Belum. Aku belum mengambil foto denganmu dengan dandanan seperti ini.”
“Tch. Lakukanlah sesukamu, Eun-ah,” balasnya segera berpose.
“Puahahahahahaa. Kau benar-benar membuatku iri, Oppa. Kajja. Hana, dul, set!”
Chu~
Pipiku terasa panas. Tiba-tiba saja bibir mungil Sungmin mendarat tepat di pipi kananku.
“Sungmin, ani, Oppa, ka—“
Chu~
Kali ini namja itu berhasil mencium bibirku singkat. Mataku bahkan terbelalak atas perlakuannya barusan. Dia tersenyum lalu mengusap bibirku, “Kau memakaikan lipstick terlalu banyak.”
“Oppa, kau ini keterlaluan.”
“Eoh? Hahaha. Mian. Apa kau tidak ingin ke Mangwon? Hari Jumat masih panjang,” ajaknya dengan mata berbinar.
“Wae? Bukankah kau tidak suka hari Jumat?”
“Kajja!”
“Lepas dulu dandananmu itu. Apa kau ingin ke taman dengan muka seperti itu?”
-
Tangan hangat ini, menggenggam jemariku erat seakan tidak ingin terpisah. Dia sudah menjadi Sungmin tampan tanpa polesan make up seperti di rumahnya tadi. Langkah kaki yang kami ciptakan berirama indah, disusul dengan tiupan angin sepoi-sepoi.
“Ayo duduk,” ajaknya setelah melihat bangku panjang di dekat sungai. Bangku yang sering menjadi tujuanku dan Sungmin bila mampir ke taman ini.
Genggaman Sungmin semakin erat. Dia menoleh ke arahku, “Sekarang kau benar-benar senang?”
“Ne, majayo,” jawabku dan dapat kupastikan muncul semburat merah di sekitar wajahku.
Namja itu melepaskan tangannya, lalu meletakan kepalanya ke atas pahaku. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan mata tertutup. Tampan sekali. Wajah yang damai dan sangat bersahabat.
Perlahan aku mendekatkan wajahku sampai hampir tak berjarak. Bibirku mencoba menghampiri bibir mungil Sungmin, menyentuhnya dengan perasaan tak terungkapkan. Namja itu membalas aksiku dengan sedikit menarik tengkukku.
“Saranghae,” aku berbisik setelah mengangkat wajahku ke posisi awal.
“Gomawo,” balasnya dengan senyum tersungging. “Kau sukses membuat Jumat-ku sangat menyenangkan. Hahahaha.”
Aku ikut tertawa. Demi apapun aku tidak ingin kehilangan namja ini. 

Flashback off.

Kurasakan setitik air mata jatuh ke atas album foto yang kupegang. Baru saja aku kembali melihat foto saat itu, saat aku mendandani Sungmin. Rasanya benar-benar miris. Untuk apa aku masih menyimpan kenangan ini? Bahkan setelah aku melihat namja itu masih bersama gadis lain.
*
Setelah mandi aku memang berniat untuk pergi ke Taman Mangwon. Entah untuk alasan apa, tapi aku ingin ke sana. Aku membawa mobil milik Taeyeon eonni dan segera meluncur.
Tempat ini terlalu banyak kenangan. Tanpa kusadari aku berubah menjadi gadis yang sangat melankolis. Sebelumnya aku bahkan tidak peduli pada perasaan orang. Hukum karma memang berlaku, heh?
Aku berjalan menelusuri taman yang masih menyisakan daun-daun oranye menandakan musim gugur akan segera berganti dengan musim dingin. Masih cukup banyak orang yang berada di tempat ini sekarang. Seperti sudah terbiasa dengan jalanan Taman Mangwon, kakiku terus melangkah ke tengah taman di tepi sungai. Ke tempat yang sangat aku sukai pemandangannya.
Tapi sebentar.
Apa aku tidak salah lihat? Apa itu Kyuhyun? Apa hoobae satu itu mempermainkanku? Tadi kan dia bilang malas keluar. Dia bilang tidak suka hari Jumat. Lalu dia datang dengan siapa?
Aku mendekat dan menyipitkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Tapi sedetik kemudian aku menyesal melakukannya. Coba lihat, Kyuhyun ternyata sedang bersama SUNGMIN.
“Mwoya?” desisku pada diri sendiri. Hampir saja aku menganggap ini mimpi. Aku melangkah sampai ke pohon paling dekat dengan mereka dan bersembunyi di sana.
“Apa kau yakin dia tidak akan kemari?” tanya sebuah suara yang kuyakini milik Sungmin.
“Ne, hyung.”
“Joah. Apa kau sudah menanyakan keadaannya?”
“Ne. Sepertinya dia benar-benar terpukul melihatmu di cafe tadi malam. Hyung, apa kau tidak bisa menghentikan ini? Aku tau kau bermaksud baik, tapi dengan cara ini tetap saja kau melukainya.”
“Kyuhyun-ah, apa kau tau? Aku sangat ingin membongkar semuanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia buru-buru pergi saat pertama kali melihatku lagi. Aku takut dia tidak ingin menemuiku.”
“Tapi hyung, sampai kapan? Kalau begini cepat atau lambat dia pasti akan sadar. Hyung, bahkan dia masih mengingat semua tentang dirimu. Kau tidak ingat saat kubilang Eunran sunbae mengataiku mirip siluman kelinci? Ayolah hyung, pakai logikamu. Kau ingin melukainya dua kali?”
“Aniyo.”
“Aku sudah hampir membeberkan semuanya saat melihatnya menangis. Hyung, dia selalu melamun saat aku mencoba untuk mengingatkan masa lalu kalian. Aku yakin dia masih mengingat semuanya. Kumohon jangan jadi pengecut.”
“Tapi aku harus bagaimana? Kyuhyun-ah, kau tau kan kalau—“
Kalimat Sungmin terputus melihat kehadiranku. Semua pembicaraan dua lelaki itu terekam jelas oleh indera pendengaranku. Aku sudah tak tahan mendengarnya dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian.
“Eunran?” kulihat wajah Sungmin benar-benar pucat  saat menyebut namaku.
 “Sunbae, sejak kapan kau disini?” Kyuhyun memegang pundakku. “Apa kau mendengarnya?”
Tak ada yang bisa kukatakan. Aku hanya merasakan gumpalan air mengganggu penglihatanku dan tak bisa melepas pandanganku dari Sungmin. Makhluk macam apa namja itu? Kenapa? Apa untungnya dia melakukan semua ini?
“Eun—“
“Sudahlah,” cegahku sebelum Sungmin banyak bicara. “Bukankah kalian sudah banyak bicara tadi? Apa masih ada yang ingin kau ucapankan, Lee Sungmin?”
“Sunbae, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” bocah di sebelah Sungmin ini rupanya mencoba memberi pembelaan.
“Geure? Apa kau tau semua yang kupikirkan, heh?” aku merasakan napasku memburu. “Kenapa dengan kalian berdua?” satu-satu air mataku mulai berjatuhan. "Lee Sungmin, apa belum cukup puas? Kau bahkan memakai anak ini untuk memastikan apa aku masih tergila-gila padamu, geuji? Apa kau sudah mendapat jawabannya? APA KAU PUAS?!”
“Sunbae, dengarkan aku,” Kyuhyun menarik pergelanganku. “Aku tidak ingin membela siapa-siapa disini. Baik, aku minta maaf untuk semua yang kulakukan. Tapi aku percaya Sungmin hyung punya alasan yang perlu kau dengar.”
“Aniyo. Tidak ada alasan yang harus kudengar dari siapapun. Selamat untuk keberhasilan kalian berdua. Kuharap aku benar-benar bisa melupakan orang sepertimu,” aku melewati tubuh Sungmin dan berjalan cepat untuk menyingkir dari tempat itu. Air mataku tumpah saat pintu mobil berhasil tertutup rapat. Entah kenapa aku merasa percuma, merasa sia-sia untuk semua harapanku tentang Sungmin ataupun Kyuhyun.

To be Continued~