Senin, 13 Januari 2014

FF-I Miss You, I Do [Part 1]

Cast : Soo Eunran, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Disclaimer : This fanfic is mine. Happy reading ^^


Summary:
Satu kalipun, aku tidak berniat melupakanmu
Bukan, aku sudah ingin melakukannya, tapi aku terlalu terbiasa denganmu
*
Eunran POV

Tirai hujan yang lebat masih menghiasi pemandangan di luar jendela kamarku. Kalender merah mudah yang sejak tadi menjadi perhatianku segera kututup pelan. Hampir satu tahun. Waktu yang tidak singkat untuk berusaha melupakan seseorang. Tapi kenapa aku tidak bisa? Lee Sungmin. Selama satu tahun ini seluruh isi kepalaku tidak bisa bersih dari namja itu.
 Harusnya aku membencinya. Harusnya aku sudah melupakan segalanya sejak aku melihat kejadian menyakitkan itu. Biar kutebak, namja itu pasti sudah bisa melupakanku seratus persen. Kenapa? Kenapa sulit sekali melupakan orang yang sudah bertindak seenaknya seperti Sungmin?
Menangis. Yah, aku hanya bisa menangis mengasihani kebodohanku ini. Kalau saja dia tau seperti apa rasanya. Aniyo. Sejak awal akulah yang paling tau bagaimana keadaannya, cara bertahan untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi kebiasaanku.
Tok! Tok! Tok!
“Eunran-ah! Mau sampai kapan kau di kamar terus? Apa kau tidak ikut ke gereja?” suara Taeyeon eonni melengking di luar pintu kamarku.
“Oh, ne! Aku akan segera keluar. Gidaryeo, Eonni!” cepat-cepat aku menghapus sisa-sisa air mata yang melekat di pipiku. Aku mulai membiasakan diri ke gereja bersama Taeyeon eonni pada jam sore sejak satu tahun lalu. Alasannya masih karena namja itu. Aku ingin mengubah kebiasaan, agar setidaknya ada memori yang bisa terlupa.
“Kau lama sekali, nona Soo,” Taeyeon eonni mencubit pipiku gemas. Semoga saja dia tidak menyadari mataku yang sembab ini.
Taeyeon eonni adalah anak dari paman Kim. Ibunya kakak dari ibuku. Keluargaku semua berada di Jeju, sebuah pulau indah yang selalu kurindukan. Aku tinggal bersama Taeyeon eonni sejak aku memutuskan untuk kuliah di Seoul.
*
Ibadah dimulai tepat setelah aku menduduki salah satu bangku di deret belakang. Dulu aku selalu datang pagi, tidak pernah duduk di belakang, bahkan selalu masuk dengan menggenggam tangan Sungmin. Tapi sekarang keadaan sudah benar-benar berubah. Aku, Sungmin, dan semuanya sudah lenyap. Hanya kenangan yang tersisa.
Waktu memang sudah menjawabnya. Sekarang aku hanya datang sendiri, maksudku tidak terhitung Taeyeon eonni. Aku bersyukur setidaknya masih ada eonni cantik itu di sampingku. Hhhh. Bukankah aku mau melupakan namja itu? Bagaimana mau lupa kalau hal sekecil ini saja masih harus teringat padanya?
“...Tuhan, memang benar ini sulit. Bahkan aku tidak tau betapa banyaknya waktu yang terbuang sia-sia untuk menangisi kisah indah yang berakhir di tengah jalan itu. Sungmin sudah menjadi hari-hari indahku, dan hari-hari itu kuharap bisa terulang di masa yang akan datang. Mungkin tidak bersama Sungmin, tapi tidak masalah. Setidaknya izinkan aku melupakan dia. Kumohon. Amin.”
Setiap ibadah, aku selalu menyisipkan doa itu. Berharap Tuhan akan menjawabnya.
“Ya! Melamun apa lagi kau ini? Ayo pulang,” Taeyeon eonni menyenggol lenganku. Aku baru sadar terus melongo setelah doa berakhir.
“Ne, eonni,” cengirku.
Gadis itu menarik tanganku dan berjalan di depan. Gereja masih dipenuhi dengan orang-orang yang juga mau keluar. Harusnya tidak terlalu sulit bagi kami untuk menerobos, karena tadi duduk di barisan belakang. Kalau dipikir-pikir sudah sangat lama—
“Ah!” ringisku. Kepalaku membentur bahu belakang Taeyeon eonni. “Eonni, waeyo?”
Gadis itu tidak bersuara dan terus menatap ke depan. Akhirnya kuikuti arah pandangnya penasaran. Siap—
“Sungmin?” tubuhku terpaku saat menyebut nama itu. Bukan, namja itu, dia ada di depanku saat ini. Gila! Ini tidak mungkin!
Beberapa detik aku hampir tidak bisa merasakan detak jantungku. Sepersekian menit mataku mulai basah dan membuat pandanganku kabur. Tidak bisa. Aku harus segera pergi, aku harus lari sekarang. Mana mungkin aku menangis di depan manusia ini. Kulangkahkan kakiku secepat yang kubisa dan menerobos orang-orang tanpa peduli. Wajah itu, ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Mata, hidung, bahkan bibir mungil Sungmin, aku melihat lagi semua itu.
Blam!
Aku berhasil menutup pintu mobil. Tiba-tiba semua yang terjadi hari itu berputar memenuhi kepalaku.

Flashback on Eunran POV

Sungmin mengajakku bertemu di taman Mangwon. Ini adalah pertemuan pertama sejak seminggu lalu dia tidak mengabariku sama sekali. Bahagia? Tentu saja. Mana ada kekasih yang betah tidak bertemu selama seminggu, kecuali kasus long distance relationship.
Taman ini menjadi taman favoritku dengan Sungmin. Kami sering menghabiskan sore hari disini, walaupun taman ini memang tidak sebaik taman lain di kota Seoul.
“Dimana siluman kelinci itu? Kalau aku melihatnya, pasti akan kujitak kepalanya,” aku menggerutu kembali mengingat ketidak beradaan Sungmin selama seminggu belakangan ini.
Mataku tertuju pada bangku panjang yang terletak di bawah pohon rindang di dekat sungai. Sepertinya itu Sungmin. Tapi siapa itu di sebelahnya?
“Sungmin-ah,” panggilku dari belakang. Namja itu memutar badannya tapi tidak membalas senyumku. Catat itu, tidak membalas senyumku.
“Wasseo?” balasnya. Aku berhenti melangkah tepat satu meter di belakang mereka. Langkahku terhenti karena kulihat tangan Sungmin merangkul gadis di sebelahnya yang baru saja ikut berdiri. Aku tidak pernah melihat gadis itu.
“Apa kau sudah lama? Siapa dia?” tanyaku mulai mengerutkan bibir.
“Dia Jaegyeong,” balas Sungmin. Tatapan matanya padaku tidak sehangat biasanya, dia tampak gugup dan canggung.
“Ah, Jaegyeong. Apa dia temanmu? Kenapa tidak pernah mengenalkannya padaku?” aku mencoba untuk berpikir positif. Apa lagi setelah kuliat rangkulan Sungmin semakin erat di bahu gadis itu.
“Dia bukan temanku, tapi—“ Sungmin menurunkan tangannya lalu gantian menggenggam jemari gadis di sebelahnya itu. “dia Jaegyeong, gadis yang sekarang sangat kucintai,” lanjutnya.
“Ne?”
“Maaf, aku baru mengabarimu sekarang.”
“M-mwo? Mworago?”
Dengan susah payah aku menelan ludah. Suaraku tercekat dan hampir tidak bisa bicara. Apa-apaan ini? Kenapa begitu mudah mengucapkannya? Apa dia gila? Apa dia bodoh? Apa aku sedang dikerjai? Apa aku melewatkan sesuatu?
“Tidak usah bingung dan terlalu dipikirkan. Mulai sekarang aku akan terus bersama gadis ini, mianhae Eunran-ah,” Sungmin mengatakannya dengan sangat jelas.Tidak usah dipikirkan katanya? Bahkan di telingaku kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk sampai bilik jantungku.
“Tch. Kau pasti bohong, geuji? Sungmin-ah, ulang tahunku masih sangat lama. Sudahlah, tidak usah bercanda lagi,” aku mendekati mereka tiga langkah lagi.
“Aku tidak bercanda.”
“Ne?” mataku panas. Gigi atas dan bawah di dalam mulutku mengeras, menahan rasa yang bergejolak luar biasa ini. “Michoseo?”
“Mungkin, aku mungkin sudah gila. Geure, kami akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik,” tanpa bergerak sedikit pun untuk menghampiriku, Sungmin malah menarik tangan gadis bernama Jaegyeong itu untuk angkat kaki. Mereka berjalan perlahan menjauhiku.
Aku benar-benar terpaku. Seperti ada kabut gelap yang meninggalkan gelegar petir di atas kepalaku. Laki-laki seperti apa dia, heh? Semudah itu?
“Sungmin-ah!” aku berteriak dan mencoba berlari mengejar mereka. “Sungmin-ah, chankaman!”
Aku berhasil menyusul dan menahan langkah kedua orang itu. Napasku memburu tak karuan.
“Apa lagi?” tanyanya yang membuat mentalku terjun bebas.
“Arraseo, aku hanya ingin bicara sebentar,” aku menelan ludah dan menarik napas. “Chukkae,” ucapku dengan luka yang semakin dalam. “Aku tidak mengerti kenapa begitu mendadak, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan. Geurigo, gomawo. Setidaknya sekarang mataku sudah terbuka dan melihat seperti apa sebenarnya dirimu itu, Lee Sungmin. Kau—“
Kepalaku tertunduk. Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan. Tanpa kata aku berbalik dan maju meninggalkan kedua orang itu, benar, mereka berdua dan aku sendiri. Hanya seperti ini. Semuanya berakhir hanya begini saja. Air mataku sudah tidak terbendung dan akhirnya tumpah. Ini menyakitkan.Taman seindah ini cukup memuakan sekarang.

Flashback end.

Ingatan itu masih terjiplak jelas dalam otakku. Air mata yang tumpah ruah sampai saat ini, itu semua karena namja bodoh itu. Ya Tuhan, aku ingin melupakannya, tapi kenapa dia malah muncul?
Blam!
“Eun-ah, gwenchana?” Taeyeon eonni yang baru masuk ke mobil langsung memelukku.
“Aniyeyo, aku tidak baik-baik saja. Eonni, wae? Waeyo jigeum?!” aku terisak. Kurasakan tangan lembut Taeyeon eonni mengusap bahuku.
“Ne, arraseo. Sekarang sebaiknya kita pulang.”
*
Sebagai mahasiswi psikologi aku bangga bisa membaca sifat orang dari perilakunya. Walaupun kadang-kadang aku salah mengartikan, tapi setidaknya itulah kelebihan dari seorang psikolog. Kampus ini, tempat dimana selama 3 tahun belakangan aku menuntut ilmu. Tidak ada yang spesial, terutama setelah Sungmin pergi entah kemana.
Tch. Jebbal Eunran, berhenti memikirkan namja itu.
“Jogiyo!” suara sedikit merdu dan kuyakin berasal dari seorang laki-laki, memanggilku dari depan. Aku mendekat untuk mengetahui siapa yang sepagi ini sudah berteriak tanpa memanggil namaku.
“Nuguseyo?”
“Ah, Cho Kyuhyun imnida,” balasnya dengan senyum lebar sekali. Suaranya tegas, tapi masih terdengar sangat lembut.
“Kau mengenalku?”
“Ne, geurom. Ireumi Soo Eunran, geuji?”
“Ya! Eottoke arraseo? Kau penguntit, heh?” aku mundur selangkah untuk menjaga jarak.
“Ey~ aniyo,” namja itu mengibaskan tangannya. “Aku adik tingkatmu.”
“Mworago?”
“Ne. Cho Kyuhyun hoobae,” jelasnya.
Aku memerhatikan wujud namja yang berdiri di depanku ini. Gaya berdirinya, mirip seseorang yang sangat kukenal, lalu cengirannya itu, benar-benar sangat mirip. Hanya saja namja ini terlihat lebih tinggi. Tidak usah kukatakan siapa orangnya.
“Ada masalah apa? Kenapa kau memanggilku?” aku menaikkan dagu sedikit.
“Kau menjatuhkan kartu mahasiswamu, Sunbae,” namja bernama Kyuhyun itu mengibas-ngibas sebuah kartu di depan wajahku. Eyy, dasar tidak sopan! Pantas saja dia tau namaku.
“Dimana kau menemukannya?”
“Di dekat pohon di tengah kampus. Aku juga sering sekali melihatmu disana. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”
Glek.
Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?
“Sudahlah, aku  ada kelas. Terima kasih sudah menemukan kartu ini. Lain kali kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan, eoh?”
“Ah, ne, Sunbae.”
Aku bergerak meninggalkan namja itu di belakang. Tak sengaja bibirku malah tersenyum miris. Pohon di tengah kampus. Tch. Apa lagi yang bisa kulakukan selain melamun dan akhirnya malah memutar semua kenangan yang pernah tercipta di tempat itu.
Pohon itu adalah tempat umum di kampus ini. Tapi hampir seluruh mahasiswa disini menamakannya ‘Pohon Minran’. Setelah Sungmin menghilang, aku tidak pernah mendengar nama Minran disebut-sebut lagi. Empat bulan yang lalu kudengar pohon itu akan ditebang, tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga dilaksanakan. Apa itu hanya hoax? Mollayo. Sekarang bagiku, ada atau tidaknya pohon itu tidak akan merubah apa-apa.
*

Dia memang mengerikan. Namja yang mengaku hoobae di kampusku ini, yang menemukan kartu mahasiswaku dan akhirnya mengetahui semua identitasku, belakangan ini suka sekali muncul dimana-mana. Mulai dari memberikan payung saat hujan deras, tiba-tiba muncul dengan coklat saat aku melamun di tengah kampus, menarikku untuk berdiri di lantai atas dan membicarakan banyak hal, bahkan saat aku membutuhkan tissue toilet dia tiba-tiba datang dan melempar benda itu dari atas pintu.
Bayangkan!
Apa dia Spiderman?
Semakin lama mengenalnya, aku semakin mengingat Lee Sungmin. Setiap melakukan aktivitas bersama Kyuhyun, aku malah terus melihat pribadi Sungmin. Ya Tuhan, Kyuhyun memang sangat baik. Tapi apa tidak bisa aku melihat Kyuhyun sebagai Kyuhyun? Aku memang ingin melupakan Sungmin, tapi tidak dengan cara ini. Aku sediri sangat lelah, jujur. Kalau begini terus bisa-bisa semua kenangan yang berhasil kulupakan akan terkupas kembali. Kumohon, menyingkirlah Sungmin!!!
“Sunbae? Kau melamum lagi, heh?” Kyuhyun menyenggol tanganku dan mengembalikanku ke alam nyata. Sudah kubilang, dia suka sekali muncul di depanku.
“Kyuhyun-ah, apa kau tidak capek melihatku? Atau kau tidak bosan dengan kebiasaanku melamun?”
“Aniyo. Wae?”
“Tch,” gantian aku memukul lengannya. “Benar juga. Aku yang seharusnya bilang bosan melihatmu ada dimana-mana.”
Aku melirik Kyuhyun yang hanya membalasnya dengan senyum. Lagi-lagi yang terlintas di kepalaku malah Sungmin. Senyum yang selalu dikeluarkan Sungmin untuk membalas perkataanku yang tidak masuk akal, sama dengan senyum Kyuhyun saat ini.
“Oh, sebentar,” Kyuhyun mengambil tas yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalamnya. “Ini, cobalah.”
“Ige mwoya?” balasku sembari mengambil benda yang disodorkan Kyuhyun itu. Kubuka tutup kotak makan di tanganku dan tertegun melihat isi di dalamnya. “Sup labu?”
“Wae? Kau tidak suka?”
“A-aniyo.”
“Ahh, untunglah. Cobalah, aku sudah membuatnya dengan susah payah,” Kyuhyun memberikan sendok sup ke arahku. Dengan masih terdiam, aku meraih sendok dan mulai memasukkan sesuap sup ke dalam mulut.
Sama. Rasanya benar-benar sama.
“Kyuhyun-ah, apa kau tau?”
“Ne?”
“Kau benar-benar mirip dengan seseorang.”
“Jinjja? Nugu? Apa dia bisa memasak sup labu juga?”
Aku tersenyum miris, “Sangat bisa. Dia bisa memasak lebih enak dari pada masakanmu ini. Kau benar-benar mirip dengan siluman kelinci itu.”
“Siluman kelinci? Hahaha. Nuguyeyo?”
Aku tak berniat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Siapa yang peduli? Kujelaskanpun siapa orangnya pada hoobae ini, dia tidak akan mengerti.
*
Kubaca sekali lagi pesan yang baru saja masuk ke ponselku, dari Kyuhyun. Dia mengajakku ke Sapphire Cafe, sebuah tempat yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Dari begitu banyak cafe di kota ini, kenapa harus yang satu itu?
Tapi aku ingin. Sudah lebih dari satu tahun aku tidak kesana, jadi tidak ada salahnya aku menerima ajakan Kyuhyun. Lagi pula aku bosan terus-terusan di rumah.
To : Kyu hoobae
Arraseo. Aku akan berangkat sekarang J
-
Lampu-lampu hiasan berwarna ungu redup membuat suasana cafe ini semakin terlihat elegan. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, hanya ada sedikit perubahan pada posisi panggung. Sejak memasuki cafe, aku berhasil mengingat salah satu kenanganku bersama Lee Sungmin.

Flashback on Eunran POV

Sungmin memintaku berdandan cantik malam ini. Dia bilang akan mengajakku pergi ke tempat yang namanya sangat bagus. Hahaha. Kupikir dia hanya mengakui kalau namaku yang paling bagus, ternyata masih ada yang lebih bagus. Dasar siluman!
“Kau jangan kaget kalau kita sudah sampai, eoh?” tegas Sungmin tepat saat aku duduk di jok mobil. Aku meliriknya curiga.
“Wae? Aku sudah dandan cantik, jadi kuperingatkan jangan macam-macam,” ancamku disambut tawa nyaringnya. Lihat, dia memang suka sekali menertawaiku.
Sekitar 20 menit kami tiba disebuah bangunan yang terlihat seperti cafe di kebanyakan tempat. Apa yang harus kukagetkan?
“Kajja,” Sungmin menggenggam tanganku hangat dan membawaku masuk. Temaram ungu nyaman memenuhi pandanganku. Cukup indah dan minimalis.
Sungmin memandu sampai kami duduk di salah satu sudut cafe. Tempat dimana aku bisa melihat panggung dengan sempurna. Dia memesan beberapa cemilan dan dua gelas minuman.
“Tunggu sebentar, ne? Jangan kemana-mana,” bisiknya. Aku mengangguk saja.
Aku mengikuti Sungmin dengan pandangan mata sampai dia menghilang di belakang panggung. Beberapa detik kemudian aku terbelalak mendapati Sungmin berdiri di atas panggung dengan sebuah gitar di tangannya. Dia mengambil salah satu mic lalu duduk di kursi sambil memangku gitar.
“Good night,” sapanya mengundang puluhan pasang mata, termasuk aku. “Eunran-ah, sudah kubilang jangan kaget. Kenapa sampai melotot begitu?” jelas saja ucapannya itu membuat semua mata sekarang terarah padaku.
“Gadis di sana itu, namanya Soo Eunran. Apa kalian tau? Kami sudah menempuh waktu yang sangat lama sampai saat ini. Dia gadis paling manis yang pernah ada. Hahaha. Kalau ada yang mau protes mohon disimpan. Bagiku tidak ada yang lebih baik dari Eunran-ku. Dan malam ini aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya. I love you, Soo Eunran,” ucapnya dengan sebuah senyum. Sungmin mulai membuat intro lagu dari gitarnya dan seketika membuat cafe ini riuh dengan tepuk tangan.
Meleleh?
Kalau aku ini sebatang lilin, kupikir Sungmin adalah sumbu api yang paling ampuh sampai membuatku meleleh dalam waktu singkat. Perasaan yang bergejolak membuat mataku berair. Aku juga mencintaimu, Lee Sungmin.

Flashback off

“Sunbae, kau mau pesan apa?” Kyuhyun menyadarkanku dari sisa-sisa kenangan yang baru saja mengusik.
“Apa saja.”
“Geure.”
Beberapa detik setelah memastikan pesanan, pelayan yang berdiri di meja tempatku bersama Kyuhyun akhirnya pergi ke belakang. Aku kembali mengamati ruangan minimalis ini. Memang tidak ada yang begitu spesial, kecuali lagu yang pernah dinyanyikan Sungmin untukku.
“Sunbae,” Kyuhyun memanggilku. “Aku pergi ke toilet sebentar, eoh?”
“Ne. Jangan lama-lama,” pesanku mengingat keadaanku yang takut sendiri di tempat yang tak begitu kukenal. Kyuhyun mengangguk paham dan menepuk bahuku sebelum beranjak.
Panggung berubah gelap. Aku tidak bisa melihat siapa seseorang yang baru saja naik ke atasnya. Sesaat kemudian sebuah lampu sorot menyala dan tertuju pada seorang namja yang duduk di sana, di atas panggung. Mataku menyipit agar bisa melihat dengan jelas.
“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang sama.

To be continued~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar