Genre : Romance
Disclaimer : This fanfic is mine. Happy reading ^^
Summary:
Satu kalipun, aku tidak berniat melupakanmu
Bukan, aku sudah ingin melakukannya, tapi aku
terlalu terbiasa denganmu
*
Eunran POV
Tirai hujan yang lebat masih menghiasi
pemandangan di luar jendela kamarku. Kalender merah mudah yang sejak tadi
menjadi perhatianku segera kututup pelan. Hampir satu tahun. Waktu yang tidak
singkat untuk berusaha melupakan seseorang. Tapi kenapa aku tidak bisa? Lee
Sungmin. Selama satu tahun ini seluruh isi kepalaku tidak bisa bersih dari
namja itu.
Harusnya aku membencinya. Harusnya aku
sudah melupakan segalanya sejak aku melihat kejadian menyakitkan itu. Biar
kutebak, namja itu pasti sudah bisa melupakanku seratus persen. Kenapa? Kenapa
sulit sekali melupakan orang yang sudah bertindak seenaknya seperti Sungmin?
Menangis. Yah, aku hanya bisa menangis
mengasihani kebodohanku ini. Kalau saja dia tau seperti apa rasanya. Aniyo.
Sejak awal akulah yang paling tau bagaimana keadaannya, cara bertahan untuk
melakukan sesuatu yang bukan menjadi kebiasaanku.
Tok! Tok! Tok!
“Eunran-ah! Mau sampai kapan kau di kamar
terus? Apa kau tidak ikut ke gereja?” suara Taeyeon eonni melengking di luar
pintu kamarku.
“Oh, ne! Aku akan segera keluar. Gidaryeo,
Eonni!” cepat-cepat aku menghapus sisa-sisa air mata yang melekat di pipiku.
Aku mulai membiasakan diri ke gereja bersama Taeyeon eonni pada jam sore sejak
satu tahun lalu. Alasannya masih karena namja itu. Aku ingin mengubah
kebiasaan, agar setidaknya ada memori yang bisa terlupa.
“Kau lama sekali, nona Soo,” Taeyeon eonni
mencubit pipiku gemas. Semoga saja dia tidak menyadari mataku yang sembab ini.
Taeyeon eonni adalah anak dari paman Kim.
Ibunya kakak dari ibuku. Keluargaku semua berada di Jeju, sebuah pulau indah
yang selalu kurindukan. Aku tinggal bersama Taeyeon eonni sejak aku memutuskan
untuk kuliah di Seoul.
*
Ibadah dimulai tepat setelah aku menduduki
salah satu bangku di deret belakang. Dulu aku selalu datang pagi, tidak pernah
duduk di belakang, bahkan selalu masuk dengan menggenggam tangan Sungmin. Tapi
sekarang keadaan sudah benar-benar berubah. Aku, Sungmin, dan semuanya sudah
lenyap. Hanya kenangan yang tersisa.
Waktu memang sudah menjawabnya. Sekarang aku
hanya datang sendiri, maksudku tidak terhitung Taeyeon eonni. Aku bersyukur
setidaknya masih ada eonni cantik itu di sampingku. Hhhh. Bukankah aku mau
melupakan namja itu? Bagaimana mau lupa kalau hal sekecil ini saja masih harus
teringat padanya?
“...Tuhan,
memang benar ini sulit. Bahkan aku tidak tau betapa banyaknya waktu yang
terbuang sia-sia untuk menangisi kisah indah yang berakhir di tengah jalan itu.
Sungmin sudah menjadi hari-hari indahku, dan hari-hari itu kuharap bisa
terulang di masa yang akan datang. Mungkin tidak bersama Sungmin, tapi tidak
masalah. Setidaknya izinkan aku melupakan dia. Kumohon. Amin.”
Setiap ibadah, aku selalu menyisipkan doa itu.
Berharap Tuhan akan menjawabnya.
“Ya! Melamun apa lagi kau ini? Ayo pulang,”
Taeyeon eonni menyenggol lenganku. Aku baru sadar terus melongo setelah doa
berakhir.
“Ne, eonni,” cengirku.
Gadis itu menarik tanganku dan berjalan di
depan. Gereja masih dipenuhi dengan orang-orang yang juga mau keluar. Harusnya
tidak terlalu sulit bagi kami untuk menerobos, karena tadi duduk di barisan
belakang. Kalau dipikir-pikir sudah sangat lama—
“Ah!” ringisku. Kepalaku membentur bahu
belakang Taeyeon eonni. “Eonni, waeyo?”
Gadis itu tidak bersuara dan terus menatap ke
depan. Akhirnya kuikuti arah pandangnya penasaran. Siap—
“Sungmin?” tubuhku terpaku saat menyebut nama
itu. Bukan, namja itu, dia ada di depanku saat ini. Gila! Ini tidak mungkin!
Beberapa detik aku hampir tidak bisa merasakan
detak jantungku. Sepersekian menit mataku mulai basah dan membuat pandanganku
kabur. Tidak bisa. Aku harus segera pergi, aku harus lari sekarang. Mana
mungkin aku menangis di depan manusia ini. Kulangkahkan kakiku secepat yang
kubisa dan menerobos orang-orang tanpa peduli. Wajah itu, ya Tuhan, aku
benar-benar merindukannya. Mata, hidung, bahkan bibir mungil Sungmin, aku
melihat lagi semua itu.
Blam!
Aku berhasil menutup pintu mobil. Tiba-tiba
semua yang terjadi hari itu berputar memenuhi kepalaku.
Flashback
on Eunran POV
Sungmin
mengajakku bertemu di taman Mangwon. Ini adalah pertemuan pertama sejak
seminggu lalu dia tidak mengabariku sama sekali. Bahagia? Tentu saja. Mana ada
kekasih yang betah tidak bertemu selama seminggu, kecuali kasus long distance
relationship.
Taman
ini menjadi taman favoritku dengan Sungmin. Kami sering menghabiskan sore hari
disini, walaupun taman ini memang tidak sebaik taman lain di kota Seoul.
“Dimana
siluman kelinci itu? Kalau aku melihatnya, pasti akan kujitak kepalanya,” aku
menggerutu kembali mengingat ketidak beradaan Sungmin selama seminggu belakangan
ini.
Mataku
tertuju pada bangku panjang yang terletak di bawah pohon rindang di dekat
sungai. Sepertinya itu Sungmin. Tapi siapa itu di sebelahnya?
“Sungmin-ah,”
panggilku dari belakang. Namja itu memutar badannya tapi tidak membalas
senyumku. Catat itu, tidak membalas senyumku.
“Wasseo?”
balasnya. Aku berhenti melangkah tepat satu meter di belakang mereka. Langkahku
terhenti karena kulihat tangan Sungmin merangkul gadis di sebelahnya yang baru
saja ikut berdiri. Aku tidak pernah melihat gadis itu.
“Apa kau
sudah lama? Siapa dia?” tanyaku mulai mengerutkan bibir.
“Dia
Jaegyeong,” balas Sungmin. Tatapan matanya padaku tidak sehangat biasanya, dia
tampak gugup dan canggung.
“Ah,
Jaegyeong. Apa dia temanmu? Kenapa tidak pernah mengenalkannya padaku?” aku
mencoba untuk berpikir positif. Apa lagi setelah kuliat rangkulan Sungmin
semakin erat di bahu gadis itu.
“Dia
bukan temanku, tapi—“ Sungmin menurunkan tangannya lalu gantian menggenggam
jemari gadis di sebelahnya itu. “dia Jaegyeong, gadis yang sekarang sangat
kucintai,” lanjutnya.
“Ne?”
“Maaf,
aku baru mengabarimu sekarang.”
“M-mwo?
Mworago?”
Dengan
susah payah aku menelan ludah. Suaraku tercekat dan hampir tidak bisa bicara.
Apa-apaan ini? Kenapa begitu mudah mengucapkannya? Apa dia gila? Apa dia bodoh?
Apa aku sedang dikerjai? Apa aku melewatkan sesuatu?
“Tidak
usah bingung dan terlalu dipikirkan. Mulai sekarang aku akan terus bersama
gadis ini, mianhae Eunran-ah,” Sungmin mengatakannya dengan sangat jelas.Tidak
usah dipikirkan katanya? Bahkan di telingaku kata-kata itu seperti pisau tajam
yang menusuk sampai bilik jantungku.
“Tch.
Kau pasti bohong, geuji? Sungmin-ah, ulang tahunku masih sangat lama. Sudahlah,
tidak usah bercanda lagi,” aku mendekati mereka tiga langkah lagi.
“Aku
tidak bercanda.”
“Ne?”
mataku panas. Gigi atas dan bawah di dalam mulutku mengeras, menahan rasa yang
bergejolak luar biasa ini. “Michoseo?”
“Mungkin,
aku mungkin sudah gila. Geure, kami akan pergi sekarang. Jaga dirimu
baik-baik,” tanpa bergerak sedikit pun untuk menghampiriku, Sungmin malah
menarik tangan gadis bernama Jaegyeong itu untuk angkat kaki. Mereka berjalan
perlahan menjauhiku.
Aku
benar-benar terpaku. Seperti ada kabut gelap yang meninggalkan gelegar petir di
atas kepalaku. Laki-laki seperti apa dia, heh? Semudah itu?
“Sungmin-ah!”
aku berteriak dan mencoba berlari mengejar mereka. “Sungmin-ah, chankaman!”
Aku
berhasil menyusul dan menahan langkah kedua orang itu. Napasku memburu tak
karuan.
“Apa
lagi?” tanyanya yang membuat mentalku terjun bebas.
“Arraseo,
aku hanya ingin bicara sebentar,” aku menelan ludah dan menarik napas.
“Chukkae,” ucapku dengan luka yang semakin dalam. “Aku tidak mengerti kenapa
begitu mendadak, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan.
Geurigo, gomawo. Setidaknya sekarang mataku sudah terbuka dan melihat seperti
apa sebenarnya dirimu itu, Lee Sungmin. Kau—“
Kepalaku
tertunduk. Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan. Tanpa kata aku berbalik dan
maju meninggalkan kedua orang itu, benar, mereka berdua dan aku sendiri. Hanya
seperti ini. Semuanya berakhir hanya begini saja. Air mataku sudah tidak
terbendung dan akhirnya tumpah. Ini menyakitkan.Taman seindah ini cukup
memuakan sekarang.
Flashback
end.
Ingatan itu masih terjiplak jelas dalam
otakku. Air mata yang tumpah ruah sampai saat ini, itu semua karena namja bodoh
itu. Ya Tuhan, aku ingin melupakannya, tapi kenapa dia malah muncul?
Blam!
“Eun-ah, gwenchana?” Taeyeon eonni yang baru
masuk ke mobil langsung memelukku.
“Aniyeyo, aku tidak baik-baik saja. Eonni, wae?
Waeyo jigeum?!” aku terisak. Kurasakan tangan lembut Taeyeon eonni mengusap
bahuku.
“Ne, arraseo. Sekarang sebaiknya kita pulang.”
*
Sebagai mahasiswi psikologi aku bangga bisa
membaca sifat orang dari perilakunya. Walaupun kadang-kadang aku salah
mengartikan, tapi setidaknya itulah kelebihan dari seorang psikolog. Kampus
ini, tempat dimana selama 3 tahun belakangan aku menuntut ilmu. Tidak ada yang
spesial, terutama setelah Sungmin pergi entah kemana.
Tch. Jebbal Eunran, berhenti memikirkan namja
itu.
“Jogiyo!” suara sedikit merdu dan kuyakin
berasal dari seorang laki-laki, memanggilku dari depan. Aku mendekat untuk
mengetahui siapa yang sepagi ini sudah berteriak tanpa memanggil namaku.
“Nuguseyo?”
“Ah, Cho Kyuhyun imnida,” balasnya dengan
senyum lebar sekali. Suaranya tegas, tapi masih terdengar sangat lembut.
“Kau mengenalku?”
“Ne, geurom. Ireumi Soo Eunran, geuji?”
“Ya! Eottoke arraseo? Kau penguntit, heh?” aku
mundur selangkah untuk menjaga jarak.
“Ey~ aniyo,” namja itu mengibaskan tangannya.
“Aku adik tingkatmu.”
“Mworago?”
“Ne. Cho Kyuhyun hoobae,” jelasnya.
Aku memerhatikan wujud namja yang berdiri di
depanku ini. Gaya berdirinya, mirip seseorang yang sangat kukenal, lalu
cengirannya itu, benar-benar sangat mirip. Hanya saja namja ini terlihat lebih
tinggi. Tidak usah kukatakan siapa orangnya.
“Ada masalah apa? Kenapa kau memanggilku?” aku
menaikkan dagu sedikit.
“Kau menjatuhkan kartu mahasiswamu, Sunbae,”
namja bernama Kyuhyun itu mengibas-ngibas sebuah kartu di depan wajahku. Eyy,
dasar tidak sopan! Pantas saja dia
tau namaku.
“Dimana kau menemukannya?”
“Di dekat pohon di tengah kampus. Aku juga
sering sekali melihatmu disana. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”
Glek.
Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?
“Sudahlah, aku
ada kelas. Terima kasih sudah menemukan kartu ini. Lain kali kalau kau
butuh bantuan, jangan sungkan, eoh?”
“Ah, ne, Sunbae.”
Aku bergerak meninggalkan namja itu di
belakang. Tak sengaja bibirku malah tersenyum miris. Pohon di tengah kampus.
Tch. Apa lagi yang bisa kulakukan selain melamun dan akhirnya malah memutar
semua kenangan yang pernah tercipta di tempat itu.
Pohon itu adalah tempat umum di kampus ini.
Tapi hampir seluruh mahasiswa disini menamakannya ‘Pohon Minran’. Setelah
Sungmin menghilang, aku tidak pernah mendengar nama Minran disebut-sebut lagi.
Empat bulan yang lalu kudengar pohon itu akan ditebang, tapi entah kenapa
sampai sekarang belum juga dilaksanakan. Apa itu hanya hoax? Mollayo. Sekarang
bagiku, ada atau tidaknya pohon itu tidak akan merubah apa-apa.
*
Dia memang mengerikan. Namja yang mengaku
hoobae di kampusku ini, yang menemukan kartu mahasiswaku dan akhirnya
mengetahui semua identitasku, belakangan ini suka sekali muncul dimana-mana.
Mulai dari memberikan payung saat hujan deras, tiba-tiba muncul dengan coklat
saat aku melamun di tengah kampus, menarikku untuk berdiri di lantai atas dan
membicarakan banyak hal, bahkan saat aku membutuhkan tissue toilet dia
tiba-tiba datang dan melempar benda itu dari atas pintu.
Bayangkan!
Apa dia Spiderman?
Semakin lama mengenalnya, aku semakin
mengingat Lee Sungmin. Setiap melakukan aktivitas bersama Kyuhyun, aku malah terus
melihat pribadi Sungmin. Ya Tuhan, Kyuhyun memang sangat baik. Tapi apa tidak
bisa aku melihat Kyuhyun sebagai Kyuhyun? Aku memang ingin melupakan Sungmin,
tapi tidak dengan cara ini. Aku sediri sangat lelah, jujur. Kalau begini terus bisa-bisa
semua kenangan yang berhasil kulupakan akan terkupas kembali. Kumohon,
menyingkirlah Sungmin!!!
“Sunbae? Kau melamum lagi, heh?” Kyuhyun
menyenggol tanganku dan mengembalikanku ke alam nyata. Sudah kubilang, dia suka
sekali muncul di depanku.
“Kyuhyun-ah, apa kau tidak capek melihatku?
Atau kau tidak bosan dengan kebiasaanku melamun?”
“Aniyo. Wae?”
“Tch,” gantian aku memukul lengannya. “Benar
juga. Aku yang seharusnya bilang bosan melihatmu ada dimana-mana.”
Aku melirik Kyuhyun yang hanya membalasnya
dengan senyum. Lagi-lagi yang terlintas di kepalaku malah Sungmin. Senyum yang
selalu dikeluarkan Sungmin untuk membalas perkataanku yang tidak masuk akal,
sama dengan senyum Kyuhyun saat ini.
“Oh, sebentar,” Kyuhyun mengambil tas yang
dipakainya dan mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalamnya. “Ini, cobalah.”
“Ige mwoya?” balasku sembari mengambil benda
yang disodorkan Kyuhyun itu. Kubuka tutup kotak makan di tanganku dan tertegun
melihat isi di dalamnya. “Sup labu?”
“Wae? Kau tidak suka?”
“A-aniyo.”
“Ahh, untunglah. Cobalah, aku sudah membuatnya
dengan susah payah,” Kyuhyun memberikan sendok sup ke arahku. Dengan masih
terdiam, aku meraih sendok dan mulai memasukkan sesuap sup ke dalam mulut.
Sama. Rasanya benar-benar sama.
“Kyuhyun-ah, apa kau tau?”
“Ne?”
“Kau benar-benar mirip dengan seseorang.”
“Jinjja? Nugu? Apa dia bisa memasak sup labu
juga?”
Aku tersenyum miris, “Sangat bisa. Dia bisa
memasak lebih enak dari pada masakanmu ini. Kau benar-benar mirip dengan
siluman kelinci itu.”
“Siluman kelinci? Hahaha. Nuguyeyo?”
Aku tak berniat menjawab pertanyaan Kyuhyun.
Siapa yang peduli? Kujelaskanpun siapa orangnya pada hoobae ini, dia tidak akan
mengerti.
*
Kubaca sekali lagi pesan yang baru saja masuk
ke ponselku, dari Kyuhyun. Dia mengajakku ke Sapphire Cafe, sebuah tempat yang
letaknya tidak terlalu jauh dari kampus. Dari begitu banyak cafe di kota ini,
kenapa harus yang satu itu?
Tapi aku ingin. Sudah lebih dari satu tahun aku
tidak kesana, jadi tidak ada salahnya aku menerima ajakan Kyuhyun. Lagi pula
aku bosan terus-terusan di rumah.
To : Kyu hoobae
Arraseo. Aku akan berangkat sekarang J
-
Lampu-lampu hiasan berwarna ungu redup membuat
suasana cafe ini semakin terlihat elegan. Masih sama seperti beberapa tahun
yang lalu, hanya ada sedikit perubahan pada posisi panggung. Sejak memasuki
cafe, aku berhasil mengingat salah satu kenanganku bersama Lee Sungmin.
Flashback on Eunran POV
Sungmin
memintaku berdandan cantik malam ini. Dia bilang akan mengajakku pergi ke
tempat yang namanya sangat bagus. Hahaha. Kupikir dia hanya mengakui kalau
namaku yang paling bagus, ternyata masih ada yang lebih bagus. Dasar siluman!
“Kau
jangan kaget kalau kita sudah sampai, eoh?” tegas Sungmin tepat saat aku duduk
di jok mobil. Aku meliriknya curiga.
“Wae?
Aku sudah dandan cantik, jadi kuperingatkan jangan macam-macam,” ancamku
disambut tawa nyaringnya. Lihat, dia memang suka sekali menertawaiku.
Sekitar
20 menit kami tiba disebuah bangunan yang terlihat seperti cafe di kebanyakan
tempat. Apa yang harus kukagetkan?
“Kajja,”
Sungmin menggenggam tanganku hangat dan membawaku masuk. Temaram ungu nyaman
memenuhi pandanganku. Cukup indah dan minimalis.
Sungmin
memandu sampai kami duduk di salah satu sudut cafe. Tempat dimana aku bisa
melihat panggung dengan sempurna. Dia memesan beberapa cemilan dan dua gelas
minuman.
“Tunggu
sebentar, ne? Jangan kemana-mana,” bisiknya. Aku mengangguk saja.
Aku
mengikuti Sungmin dengan pandangan mata sampai dia menghilang di belakang
panggung. Beberapa detik kemudian aku terbelalak mendapati Sungmin berdiri di
atas panggung dengan sebuah gitar di tangannya. Dia mengambil salah satu mic
lalu duduk di kursi sambil memangku gitar.
“Good
night,” sapanya mengundang puluhan pasang mata, termasuk aku. “Eunran-ah, sudah
kubilang jangan kaget. Kenapa sampai melotot begitu?” jelas saja ucapannya itu
membuat semua mata sekarang terarah padaku.
“Gadis
di sana itu, namanya Soo Eunran. Apa kalian tau? Kami sudah menempuh waktu yang
sangat lama sampai saat ini. Dia gadis paling manis yang pernah ada. Hahaha.
Kalau ada yang mau protes mohon disimpan. Bagiku tidak ada yang lebih baik dari
Eunran-ku. Dan malam ini aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuknya. I love
you, Soo Eunran,” ucapnya dengan sebuah senyum. Sungmin mulai membuat intro
lagu dari gitarnya dan seketika membuat cafe ini riuh dengan tepuk tangan.
Meleleh?
Kalau
aku ini sebatang lilin, kupikir Sungmin adalah sumbu api yang paling
ampuh sampai membuatku meleleh dalam waktu singkat.
Perasaan yang bergejolak membuat mataku berair. Aku juga mencintaimu, Lee
Sungmin.
Flashback off
“Sunbae, kau mau pesan apa?” Kyuhyun
menyadarkanku dari sisa-sisa kenangan yang baru saja mengusik.
“Apa saja.”
“Geure.”
Beberapa detik setelah memastikan pesanan,
pelayan yang berdiri di meja tempatku bersama Kyuhyun akhirnya pergi ke
belakang. Aku kembali mengamati ruangan minimalis ini. Memang tidak ada yang
begitu spesial, kecuali lagu yang pernah dinyanyikan Sungmin untukku.
“Sunbae,” Kyuhyun memanggilku. “Aku pergi ke
toilet sebentar, eoh?”
“Ne. Jangan lama-lama,” pesanku mengingat
keadaanku yang takut sendiri di tempat yang tak begitu kukenal. Kyuhyun
mengangguk paham dan menepuk bahuku sebelum beranjak.
Panggung berubah gelap. Aku tidak bisa melihat
siapa seseorang yang baru saja naik ke atasnya. Sesaat kemudian sebuah lampu
sorot menyala dan tertuju pada seorang namja yang duduk di sana, di atas
panggung. Mataku menyipit agar bisa melihat dengan jelas.
“Sungmin?” gumamku sangat pelan dengan
perasaan bercampur. Namja itu, dengan posisi yang sama, dengan senyum yang
sama.
To be continued~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar